Percepat Ekosistem Kendaraan Listrik, Pertamina Tambah 2 SPKLU di Jakarta

05 Agustus 2021 20:02 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Laila Ramdhini

PT Pertamina (Persero) menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) hadirkan dua Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Lenteng Agung dan MT Haryono, DKI Jakarta. (BPPT)

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) hadirkan dua Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Lenteng Agung dan MT Haryono, DKI Jakarta.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan ini merupakan upaya untuk mempercepat pengembangan ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di Indonesia.

Rida mengungkapkan kendaraan listrik ditargetkan mencapai 2 juta mobil listrik dan 13 juta motor listrik pada 2030 dalam dokumen Grand Strategi Energi Nasional. Ada pun, target pembangunan SPKLU sebanyak 25.000 unit pada 2030. 

“Sampai saat ini telah terbangun 147 SKPLU di 119 lokasi,” ujarnya dalam Launching SPKLU secara virtual, Kamis, 5 Agustus 2021.

Upaya pemerintah dalam mewujudkan hal di atas, sambung Rida, dengan menerbitkan regulasi pendukung berupa Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 tentang Kesediaan Infrastruktur Pengisian Listrik Untuk Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.

"Permen tersebut mengatur tanggung jawab badan usaha, proses perizinan, skema listrik, tarif tenaga listrik, insentif, dan tentu saja keselamatan berusaha," katanya.

Program ini juga tak terpisahkan dari upaya mewujudkan transisi energi bersih dan efisien, menghemat devisa, serta menghemat subsidi BBM. Pada 2030, Indonesia menargetkan kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT) mencapai 38 Gigawatt.

Kepala BPPT Hammam Riza menyebut saat ini e-mobility memang menjadi pesat akhir-akhir ini. E-mobility mengadopsi penggunanan teknologi powertrain listrik, sistem informasi dalam kendaraan, teknologi komunikasi, dan infrastruktur pendukung yang saling terhubung.

“e-Mobility diyakini sebagai jawaban atas kebutuhan transportasi di masa depan bukan hanya di dunia, tapi juga di Indonesia,” ungkapnya dalam kesempatan yang sama.

Menurut Hammam, terdapat beberapa faktor yang mengakibatkan meningkatnya e-mobility secara masif dan global. Di antaranya, kesadaran akan perubahan iklim, reduksi emisi karbon, teknologi kendaraan listrik dan infrastruktur serta peningkatan jumlah kendaraan listrik.

"Ini mendukung ekosistem kendaraan listrik yang juga diproyeksikan oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM dengan potensi di 2021 mencapai 125 ribu unit pada mobil listrik dan motor listrik sebesar 1,34 juta unit," jelasnya.

Berita Terkait