Perang Bunga Simpanan Kian Merebak, Persaingan Bank Digital di Indonesia Tidak Sehat?

24 November 2021 00:31 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Muhamad Arfan Septiawan

Ilustrasi bank digital di Indonesia. Infografis: Deva Satria/TrenAsia

JAKARTA - Bank digital semakin agresif untuk menggaet nasabah dengan menawarkan suku bunga simpanan yang fantastis.  Beberapa suku bunga simpanan bank digital bahkan melebihi  bunga penjaminan simpanan rupiah di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang sebesar 3,5%.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhsitira menyebut strategi ini sejatinya ditujukan sebagai langkah awal menggaet nasabah. Kendati demikian, strategi ini dinilai tidak efektif karena menimbulkan pembengkakan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO).

Berdasarkan pantauan TrenAsia.com, PT Bank Neo Commerce Tbk menjadi bank digital dengan pergerakan bunga simpanan tertinggi saat ini. Dalam aplikasi mobile banking miliki Bank Neo Commerce, bunga tabungan yang dipatok mencapai 6%.

Tidak hanya itu, nasabah tidak diharuskan memiliki minimum saldo yang tertanam dalam tabungan tersebut. Bahkan, bunga produk deposito yang ada di emiten bersandi BBYB ini menyentuh 6,5%. 

Sejalan dengan suku bunga tinggi, Bank Neo Commerce memimpin perolehan unduhan aplikasi mobile banking. Aplikasi Neo+ milik bank yang dikuasai Akulaku itu tercatat telah diunduh lebih dari 10 juta kali.

Contoh lain, PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang menawarkan bunga simpanan bervariasi di kisaran 3,5%-4%. Bunga yang didapat tersebut bergantung pada tipe rekening yang dipilih oleh nasabah. 

Blu milik PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menawarkan , suku bunga tabungan 3%. Meski lebih rendah dibanding kompetitor, bank digital milik BCA ini mengandalkan fitur unggulan seperti kantong tabungan yang bisa dikelola hingga 25 orang.

Pada produk deposito,  Blu menawarkan suku bunga 3,5% hingga 4,00% per tahun dengan minimal penempatan Rp 1 juta. Tenor minimalnya 1 bulan dan maksimal 12 bulan dan pencarian sebelum jatuh tempo tidak dikenakan penalti.

Bhima menyebut strategi suku bunga menjadi salah satu biang kerok dari profitabilitas yang buruk di bank digital. Pasalnya, sejumlah bank digital melaporkan masih menelan kerugian hingga kuartal III-2021.

“Bank digital menawarkan bunga tinggi sekali. harusnya efisiensi, kalau kaya gini tidak ada bedanya dengan bank konvensional. Pola pikirnya masih dalam bank konvensional dalam urusan menggaet pengguna,” papar Bhima dalam Economic Outlook, Senin, 22 November 2021.

Padahal, letak keunggulan bank digital sebetulnya terletak dari efisiensi operasionalnya. Dengan karakteristik digital yang lebih murah dan mudah, bank digital seharusnya bisa mencatatkan profitabilitas lebih baik bila menggaet pengguna dengan strategi lain.

“Saya melihat bahwa kemunculan bank digital bisa mengurangi CoF. Tapi karena bunga simpanan yang ditawarkan tinggi, agak kontradiktif dengan konsep efisiennya,” jelas Bhima.

Belajar dari Kakao Bank 

Bhima mendorong pelaku industri bank digital untuk lebih canggih dalam menggaet nasabah. Dirinya menyebut kesuksesan Kakao Bank menggaet nasabah bisa menjadi benchmark yang patut diperhitungkan.

Bank asal negeri ginseng itu diketahui bisa mendapatkan lima juta pengguna layanan atau nasabah baru dalam beberapa bulan. Bank yang berdiri pada 27 Juli 2017 ini pun bisa meraup laba pada 2019 berkat strategi digital yang dibandun dengan jaringan bisnis Kakao Group lainnya. 

Menghimpun dari riset Boston Consulting Group (BCG), ekosistem dan layanan digital yang dimiliki Kakao Bank telah malang melintang di berbagai sektor. Di lini komunikasi,  Kakao Bank punya layanan chatting Kakao Talk dengan pengguna aktif lebih dari 50 juta akun dan platform jejaring sosial Kakao Story yang punya 70 juta pengguna.

Menurut Bhima, ekosistem digital yang telah mapan membuat aktivasi digital dalam mendapatkan nasabah lebih mudah. Kakao Bank juga memiliki fintech yakni Kakaopay dengan 22 juta user pada akhir 2020. 

Di sektor e-commerce, Kakao Bank terafiliasi dengan platform Kakao Style, Kakao Mart. Tidak cukup sampai di sana, Kakao Grup juga memiliki layanan mobility seperti Kakao Bus dan Kakao Metro.

“Kita bisa lihat kesukses Kakao Bank dari Korea yang bisa menghimpun nasabah dalam waktu yang relatif singkat. Di tahun lalu pun laba bersihnya sudah mencapai US$1,1 juta,” jelas Bhima.

Perlu Regulasi Tambahan?

Gusar dengan perang bunga, Direktur Utama (Dirut) PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Royke Tumilaar menyatakan Bank Indonesia (BI) seharusnya turun tangan menangani masalah ini. Royke bilang fenomena ini berpotensi membuat persaingan industri perbankan menjadi tidak sehat.

“Perlu ada regulasi dalam hal ini karena banyak perbankan yang menawarkan suku bunga tinggi pada produk simpanannya,” ujar Royke dalam kesempatan yang sama. 

Terlebih, pelaku industri perbankan akan menghadapi kenaikan suku bunga acuan yang diprediksi terjadi pada 2022. Bila masalah ini berlarut, Royke khawatir bisa mendatangkan efek negatif terhadap industri perbankan secara keseluruhan. 

BNI sendiri memproyeksikan BI Rate parkir di kisaran 3,50%-4,0%. Hal ini sejalan dengan proyeksi inflasi yang berada di kisaran 2%-4% year on year (yoy) pada tahun depan. Dalam menghadapi ini, ia juga bilang BI perlu melunak dalam penetapan standar kesehatan bank.

“Kenaikan suku bunga BI akan berdampak pada intermediasi, kebijakan relaksasi BI selama ini terkait GWM (Giro Wajib Minimum) dan RIM (Rasio Intermediasi diharapkan bisa diperpanjang agar menekan CoF,” jelas Royke.

Seperti diketahui, otoritas moneter telah menekan GWM hingga 300 basis poin (bps) untuk menyokong likuiditas perbankan. Selain itu, RIM yang diatur di level 80% hingga Desember 2021, sebelum akhirnya dinaikkan menjadi 84% pada 2022.

Dengan kondisi stimulus yang ada saat ini, Royke bilang pelaku industri perbankan relatif bisa menjaga CoF (Cost of Fund) terkendali. Maka dari itu, kinerja intermediasi perbankan mesti dijaga lewat berlanjutnya stimulus tersebut. 

Berita Terkait