Penyewa Relokasi Gedung, Permintaan Ruang Perkantoran di Jakarta Minus

April 19, 2021, 11:35 PM UTC

Penulis: Reza Pahlevi

Lanskape gedung perkantoran dan hunian vertikal diambil dari kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Permintaan perkantoran baik di central business district (CBD) maupun non-CBD mengalami kontraksi pada kuartal I-2021.

Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) mencatat permintaan perkantoran terkontraksi 10.200 meter persegi (m2), dengan perkantoran CBD negatif 5.400 m2 dan non-CBD negatif 4.800 m2.

“Tren perpindahan menuju gedung yang lebih baru dengan kualitas yang lebih baik masih tetap terjadi. Sehingga mengakibatkan total penyerapan menjadi negatif,” ujar Head of Office Leasing JLL Indonesia Angela Wibawa dalam siaran pers, dikutip Senin, 19 April 2021.

Meski permintaan secara keseluruhan negatif, permintaan perkantoran grade A di kawasan CBD masih mencatatkan angka positif.

JLL juga mencatat tidak ada perubahan pada keterisian ruang perkantoran yang masih berada di angka 74%. Hal ini disebabkan tidak adanya pertambahan suplai perkantoran baru pada triwulan pertama 2021 ini.

Dari segi harga, terdapat penurunan harga perkantoran grade A sebesar 0,6% untuk perkantoran CBD. Saat ini, rata-rata harga perkantoran grade A CBD berada di Rp263.047 per m2. JLL memprediksi masih ada kemungkinan harga ini turun lagi sepanjang 2021.

JLL memperkirakan akan ada 280.000 m2 suplai baru perkantoran CBD tahun ini. Adapun, suplai hingga 2025 diperkirakan akan ada sekitar 600.000 m2.

Untuk perkantoran non-CBD, angka keterisian juga masih stabil di 76%. Alasannya sama, tidak ada suplai baru di kuartal I-2021.

Untuk harga, tercatat ada penurunan harga 0,5% di perkantoran non-CBD. Adapun, harga rata-rata perkantoran daerah ini tercatat di Rp113.673 per m2.

“Harga sewa menurun di beberapa daerah di mana pemilik gedung di daerah keterisian rendah memberikan diskon untuk penyewa,” tambah Angela.

Saat ini, suplai perkantoran non-CBD tercatat sebesar 3 juta m2 dengan prediksi suplai sampai 2025 akan bertambah 600.000 m2.

“Pertambahan suplai besar diperkirakan akan selesai tahun depan, hingga kami memperkirakan angka keterisian akan sedikit turun,” tutup Angela. (LRD)