Penumpang Merosot Tajam, Garuda Indonesia Harap Umrah Dibuka Lagi

20 Agustus 2021 15:15 WIB

Penulis: Fachrizal

Editor: Rizky C. Septania

Sejumlah calon jamaah umrah sebelum bertolak ke Arab Saudi dari Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu, 1 November 2020. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA - Maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk berharap agar penerbangan umrah kembali dibuka pada Oktober 2021 mendatang. Hal ini terjadi lantaran jumlah penumpang semakin menurun.

Sebagai informasi, Garuda Indonesia mencatat jumlah penumpang sepanjang 2020 atau masa pandemi tahun lalu hanya mencapai 10,8 juta penumpang. Jumlah tersebut turun hingga 66,1 persen dibandingkan pada 2019 atau sebelum pandemi yang sebanyak 31,9 juta penumpang. 

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan, pihaknya kesulitan untuk memproyeksikan bisnis hingga akhir tahun mengingat masih ada sejumlah hal yang menyebabkan ketidakpastian, salah satunya penerbangan umrah. 

Irfan berharap, penerbangan umrah kembali dibuka yang merupakan peluang perusahaan untuk mendongkrak pendapatan. 

"Kalau kami memproyeksikan berbasis kondisi hari ini, tentu saja terlalu konservatif. Ada beberapa hal yang kami harapkan setelah haji ini lewat (dibatalkan) dan kami mengalami problem terbesar," kata Irfan Setiaputra dalam public expose insidentil Garuda Indonesia secara daring, Kamis 19 Agustus 2021.

Irfan mengatakan, sebelum penerapan PPKM di mulai pada 3 Juli 2021, rata-rata jumlah penumpang Garuda Indonesia mencapai 12.000 penumpang per hari. Namun, sejak diterapkan pembatasan menjadi sebanyak 2.000 penumpang per hari. 

"Memang jauh menurun dari sebelum PPKM, tapi angka 2.000 ini cukup hebat dibandingkan pada tanggal 1 Syawal 2021 jumlah penumpangnya hanya 700," ungkap Irfan. 

Hingga kini, maskapai pelat merah tersebut sedang menunggu kepastian pembukaan penerbangan umrah oleh pemerintah. 

"Tapi yang menjadi pertanyaan terbesar kami adalah apakah betul umrah akan buka bulan Oktober ini langsung dari Indonesia?," lanjutnya. Irfan meyakini, penerbangan umrah akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan perseroan. 

Terlebih sejak pandemi Covid-19, jumlah penumpang Garuda Indonesia turun signifikan. 

"Begitu umrah dibuka, swing pendapatan kita akan bergerak cukup jauh, karena antrian untuk umroh ini sudah sangat tinggi," kata dia. Selain umrah, pembatasan mobilitas yang diberlakukan saat ini juga membuat perseroan sulit untuk memprediksi bisnis tahun ini. 

Ia berharap adanya kelonggaran aturan syarat penerbangan yakni menjadi dengan sertifikat vaksin dan surat negatif Covid-19 dari hasil tes antigen. Lantaran, saat ini aturan yang berlaku adalah penerbangan untuk antar bandara di wilayah Pulau Jawa-Bali bisa dengan tes antigen bila penumpang sudah vaksin dua dosis. Sementara, penumpang yang vaksin satu dosis harus dengan tes PCR.

Begitu pula dengan penerbangan ke bandara di luar wilayah Pulau Jawa-Bali masih diharuskan untuk tes PCR, baik penumpang itu vaksin dosis dua atau dosis satu.

"Kami tentu saja berharap tidak lama lagi antigen dan vaksin menjadi syarat yang lebih mudah, dibandingkan vaksin dan PCR. Walaupun kita percaya bahwa kalau sudah divaksin dua kali posisinya jauh akan lebih baik," jelasnya. 

Berita Terkait