Penuhi Aturan Modal Inti, Bank Neo Commerce Bakal Rights Issue Rp2,5 Triliun

08 September 2021 10:05 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Muhamad Arfan Septiawan

PT Bank Neo Commerce Tbk. resmi menjadi Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) II, setelah melakukan penambahan modal atau right issue Rp150 miliar pada Juli 2020. Dengan perubahan status tersebut, perseroan akan melakukan transformasi digital dengan sasaran pasar milenial. / Perseroan

JAKARTA – Menginjak semester II-2021, bank dengan modal mini terus melakukan aksi korporasi demi menyanggupi aturan anyar Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Salah satunya PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) yang menyatakan optimistis bisa mencapai modal inti minimal Rp3 triliun pada 2022.

Direktur Utama  Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan mengatakan untuk memenuhi target itu, perseroan akan melakukan rights issue dengan membidik dana segar Rp2,5 triliun. Tjandra meyakini  penambahan modal ini diserap oleh investor karena prospek Bank Neo sebagai bank digital sangat baik.

“Walaupun ketentuan dari OJK target minimal modal inti ini untuk tahun 2022, Kami bermaksud untuk memenuhinya di tahun ini. Pemenuhan modal ini bukan hanya untuk memenuhi ketentuan OJK tapi menjadi bagian rencana investasi transformasi menjadi bank digital,” kata Tjandra dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 8 September 2021.

Keputusan rights issue ini telah mendapat izin dari pemegang saham saat  Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perseroan yang diumumkan pada 2 Juni 2021. Adapun jumlah saham baru yang dilepas BBYB mencapai maksimal 5 miliar lembar atau 40,2% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue pada Penawaran Umum Terbatas (PUT) V ini.

Antusiasme pelaku pasar modal kepada BBYB tampak dari volatilitas yang tinggi harga saham BBYB di bursa sejak peluncuran produk Neo+ pada Maret 2021. “Bank Neo Commerce sangat fokus kepada hal apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, maka dari itu, kami yakin masyarakat pun tidak ragu terhadap prospek bisnis kami kedepannya,” tegas Tjandra.

Hingga kini, aplikasi Neo+ tercatat telah diunduh lebih dari 6 juta kali. Praktis, jumlah nasabah baru di BBYB juga ikut melonjak melalui aplikasi tersebut. Ke depannya, Tjandra mengatakan bakal menggenjot user experience (UX) Neo+ untuk hadirkan pengalaman unik saat nasabah mengakses layanan keuangan digital.

“Strategi pemasaran yang kami lakukan untuk mengajak nasabah di media sosial untuk berinteraksi juga memiliki dampaknya tersendiri. Kami memastikan untuk selalu memberikan user experience yang bagus dan berguna bagi masyarakat,” jelas Tjandra.

Kendati demikian, Emiten bersandi BBYB ini mengalami kerugian bersih hingga Rp132,85 miliar pada paruh pertama tahun ini.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya di mana BBYB masih meraup laba bersih Rp19,32 miliar. Kerugian yang dialami BBYB ini bersumber dari membengkaknya total beban operasional hingga 172% secara tahunan (year on year/yoy).

Total beban operasional BBYB melesat dari Rp100,27 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp277,020 miliar pada semester I-2021. Adapun pendapatan bunga bersih Bank Neo Commerce sebesar Rp112,75 miliar tidak dapat menutupi boncos-nya beban operasional tersebut.

Jika dirinci, pendapatan bunga bersih yang diraih Bank Neo Commerce merangkak naik 21% yoy dari Rp92,83 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp112,75 miliar pada semester I-2021. Meski ditambah pendapatan operasional sebesar Rp31,69 miliar, BBYB tidak kuasa untuk menutup pengeluaran besar dari pos beban operasional.

Berita Terkait