Penuhi Aturan Bursa, Bank Permata Pastikan Kepemilikan Saham Bangkok Bank Bakal Menyusut

14 September 2021 13:05 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Laila Ramdhini

Karyawan melintas dengan latar layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Selasa, 27 Juli 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – PT Bank Permata Tbk (BNLI) saat ini belum memenuhi aturan free float atau kepemilikan saham oleh publik yang digodok oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Pemegang Saham Pengendali (PSP) BNLI, yakni Bangkok Bank Public Company Limited masih menguasai 98,71%.

Adapun kepemilikan publik di BNLI hanya menyentuh 1,29%. Struktur kepemilikan saham publik ini belum memenuhi aturan batas bawah (threshold) free float BEI yang sebesar 7,5%

Direktur Keuangan BNLI Lea Kusumawijaya menjelaskan komposisi kepemilikan saham merupakan implikasi dari mandatory tender offer yang ditujukan pada Bangkok Bank kepada BNI pada Oktober 2020. Kendati demikian, Lea menyebut komposisi kepemilikan saham Bangkok Bank bakal refloat dalam kurun dua tahun sejak mandatory tender offer diteken perseroan.

“Karena Oktober 2020 kemarin, Bangkok Bank melakukan mandatory tender offer atas akuisisi 89,12% Bank Permata. Dalam waktu dua tahun, refloat bakal turun kembali menjadi 89%,” jelas Lea dalam paparan publik virtual, Selasa, 14 September 2021.

Dirinya menyebut BNLI berupaya memenuhi aturan dari otoritas bursa di dalam negeri. Ia pun menampik adanya rencana go private yang mencuat akibat minimnya kepemilikan publik atas saham BNLI.

“Dengan demikian, kami akan memenuhi free float jadi tidak ada rencana go private untuk saat ini,” ujar Lea.

Usai disuntik Bangkok Bank, BNLI menjadi nama baru dalam Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV pada Januari 2021 dengan modal inti atau tier 1 sebesar Rp42,8 triliun atau meningkat 96,0% year on year (yoy).

Dengan mengkalkulasikan modal tier 2 yang sebesar Rp1,20 triliun, maka modal total yang dibukukan BNLI mencapai Rp44 triliun. Tidak hanya membaik dari segi permodalan, BNLI juga meraih peningkatan kinerja keuangan pada paruh pertama tahun ini. 

Perbaikan Kinerja

Laba bersih emiten bersandi BNLI ini terbang 74,3% year on year (yoy) pada semester I-2021 meski rasio profitabilitas mengalami penurunan. Laba bersih BNLI melesat dari Rp366 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp639 miliar pada semester I-2021. 

Adapun total aset Bank Permata ikut melesat 34,8% menjadi Rp213 triliun pada semester I-2021 dari sebelumnya Rp158 triliun pada semester I-2021. Membengkaknya aset Bank Permata didorong oleh moncernya penyaluran kredit segmen wholesale banking.

Penyaluran kredit segmen wholesale banking Bank Permata merangkak naik dari Rp52,7 triliun pada semester I-2020 menjadi RP73,7 triliun pada semester I-2021. Segmen ini berhasil menopang penyaluran kredit segmen retail yang menurun dari Rp48,4 triliun pada semester I-2020 menjadi Rp44,2 triliun pada semester I-2021.

Dengan begitu, penyaluran kredit Bank Permata tetap tumbuh 16,6% yoy. “Kredit kami menguat, diikuti oleh kondisi restrukturisasi kredit yang telah turun menjadi kurang dari 10% dari total kredit,” ucap Lea.

Kini, Bank Permata hanya menyisakan restrukturisasi kredit sebesar Rp11,8 triliun. Sebanyak 54,1% berasal dari segmen wholesale banking, 29,5% dari retail, dan 16,3% berasal dari segmen small medium enterprise (SME).

Kualitas aset, yang tampak dari non performing loan (NPL) gross di emiten berkode BNLI ini juga terdorong membaik. Total NPL gross BNLI menurun 43 basis poin (bps) menjadi 3,3% dari sebelumnya 3,7% pada semester I-2020.

Perseroan memprediksi dampak pandemi COVID-19 masih akan terasa hingga 2023. Sehingga, Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) terus ditingkatkan perseroan menjadi 218%.

“Mengingat dampak pandemi yang dampaknya diperkirakan masih terjadi hingga 2023, kami terus tingkatkan pencadangan meski begitu, likuiditas kami tetap kuat,” papar Lea.

Adapun penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Permata mengalami kenaikan 25% yoy  menjadi Rp155,6 triliun. Lebih rinci, DPK itu didominasi dari dana murah atau CASA sebesar Rp80,3 triliun dan deposito Rp75,3 triliun.

Berita Terkait