Pensiun! Sayonara Kereta Prameks Jogja-Solo…

JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) akan menghentikan secara resmi operasional Kereta Prambanan Ekspres (Prameks) dan digantikan oleh Kereta Rel Listrik (KRL) PT Kereta Commuter Line Indonesia (KCI).

Cikal bakal Prameks adalah kereta rute Solo-Jogja yang beroperasi sejak 1960-an. Saat itu, namanya adalah Kereta Kuda Putih. Dinamai begitu lantaran di kepala kereta terdapat lambang dua ekor kuda berbentuk hiasan kupu-kupu di atas kabin masinis.

Nama lainnya adalah Turangga Seta. Itu merupakan Kereta Rel Diesel (KRD) pertama di Indonesia. Kereta bernomor seri MCDW 300 itu diproduksi oleh pabrikan Jerman sejumlah 7 buah.

Pada 1963, dalam satu rangkaian terdiri atas dua unit kereta yang semuanya berkabin masinis. KRD itu sekilas mirip seperti bus, jadi banyak yang menyebutnya rel bus.

Dengan panjang sekitar 18.690 mm, berat 32 ton, dan daya mesin 215 hp kereta ini dapat memacu tenaganya hingga 90 kilometer per jam. Sebagai kereta yang digunakan untuk jarak dekat dan menengah, eksistensi kereta ini populer ketika dekade 1970-an.

Masyarakat yang bekerja maupun melakukan perjalanan Jogja-Solo atau sebaliknya menggunakan kereta ini. Seiring dengan berjalannya waktu, pada era 1980-an kereta ini sering mengalami kerusakan.

Suku cadang sulit didapatkan, jadi akhirnya armada itu diistirahatkan. Kemudian lahirlah komuter baru bernama Prambanan Ekspress.

Kereta Api Prambanan Ekspres (Prameks) / Instagram @Agung_Ajunks
Prameks Melaju

Dari catatan Harian Kompas, Prameks diluncurkan pertama kali pada 20 Mei 1994. Nama Prameks terpilih mengalahkan usulan lainnya, yaitu Joglo (Jogja-Solo) Ekspres.

Perjalanan Prameks tak langsung sukses seperti sekarang, bahkan PT Kereta Api Daerah Operasi VI Yogyakarta sempat akan menutup operasional KA tersebut.

Di awal operasinya, Prameks memakai rangkaian KA Senja Utama Solo yang sedang istirahat. Awalnya rute yang dilayani Jogja-Solo pulang pergi tiga kali sehari.

Pada Maret 2000, perjalanan diperpanjang dari Stasiun Solo Balapan ke Stasiun Solo Jebres, lalu diperpanjang lagi sampai Stasiun Palur di timur Solo.

Setelah jalur rel ganda KA Yogya-Kutoarjo selesai dibangun, September 2007, PT KA Daop VI melakukan uji coba Prameks rute Yogya-Kutoarjo sejauh 83 kilometer.

Di akhir pekan, penumpang Prameks makin penuh karena ditambah warga Solo dan Kutoarjo yang ingin jalan-jalan ke Yogyakarta.

Pada 2010, rangkaian KA yang digunakan adalah Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE) dan KRD. KRDE yang dipakai adalah kereta rel listrik (KRL) Holec buatan Belanda yang direnovasi dan dimodifikasi oleh PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA tahun 1980.

Tenaga listrik KRDE ini dihasilkan mesin diesel merek Cummins. Diesel dianggap lebih murah dan praktis ketimbang tenaga listrik yang peranti pendukungnya mesti dibangun di sepanjang rute.

Sementara untuk jenis KRD yang dipakai adalah buatan Jepang tahun 1970-an, meski mesinnya tetap memakai Cummins. KRD ini hibah dari Pemerintah Jepang.

Sementara itu Prameks pernah berhenti sementara pada 2012. Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia Daop VI Yogyakarta Eko Budiyanto mengatakan hal itu dikarenakan minimnya rangkaian kereta yang bisa beroperasi. Dia mengatakan dari tiga rangkaian kereta yang ada saat itu, hanya satu yang layak beroperasi.

Sejumlah penumpang berjalan di peron dekat rangkaian kereta listrik (KRL) di Stasiun Cawang, Jakarta, Senin, 14 September 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
Resmi Pensiun

Operasional KRL untuk menggantikan kereta Prambanan Ekspres yang selama ini melayani rute Solo-Yogyakarta bahkan hingga Kutoarjo, segera dapat dinikmati oleh penumpang di wilayah kerja PT KAI Daerah Operasi 6 Yogyakarta.

“Harapannya, akhir Oktober atau awal November sudah bisa dicoba di sini sampai benar-benar sesuai dengan kondisi sarana dan prasarana yang disiapkan,” kata Senior Manager Kereta Commuter Indonesia (KCI) Wilayah 6 Yogyakarta Dedy Setiawan di Yogyakarta, dilansir Antara, Jumat, 2 Oktober 2020.

Dedy mengatakan sejumlah sarana dan prasarana yang terus dipenuhi di antaranya kebutuhan listrik aliran atas, gardu, depo, dan trainset kereta rel listrik yang dibuat di PT INKA.

“Saat ini, kami terus melakukan pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendukung untuk operasional kereta rel listrik (KRL),” kata

Ia menyebutkan dari kebutuhan 10 trainset, sudah dapat terpenuhi dua rangkaian kereta yang saat ini tengah dalam proses pengujian endurance di Jakarta.

KCI Yogyakarta berharap operasional kereta rel listrik tersebut sudah dapat dilakukan pada awal Januari 2021 atau bahkan diharapkan dapat direalisasikan lebih cepat.

“Tetapi, operasional KRL ini akan dilakukan bertahap yaitu dari Yogyakarta-Klaten terlebih dulu baru kemudian dari Klaten-Solo dan diteruskan hingga ke Kutoarjo. Atau bisa sampai ke Kroya. Harapannya seperti itu,” katanya.

Dedy mengatakan standar operasional KRL yang akan dijalankan di Daop 6 disesuaikan dengan standar yang sudah dijalankan untuk KRL yang selama ini melayani Jabodetabek.

“Kami pun akan memberikan sentuhan kearifan lokal dengan pelayanan prima untuk seluruh pelanggan kereta,” katanya.

Operasional KRL di wilayah kerja PT KAI Daop 6 Yogyakarta ditandai dengan alih kelola kereta lokal dari Daop 6 yang selama ini menjadi operator Prambanan Ekspres ke PT KAI Commuter.

Direktur Utama KAI Commuter Wiwik Widayanti mengatakan pelayanan KRL di wilayah kerja Daop 6 Yogyakarta akan berbeda dengan pelayanan untuk Prambanan Ekspres, salah satunya untuk pembelian tiket.

“Nanti akan menggunakan kartu multitrip. Selama ada saldonya, maka bisa digunakan untuk naik kereta,” katanya.

Sistem ini akan mengurangi banyak antrean penumpang. Selain itu, pelayanan waktu tempuh kereta juga diupayakan lebih cepat dengan titik pemberhentian di lebih banyak stasiun sehingga dapat mendukung upaya peningkatan perekonomian masyarakat.

Saat ini, waktu tempuh Prambanan Ekspres untuk rute Yogyakarta-Solo sekitar 56 menit dengan kecepatan kereta 70-80 kilometer per jam. “Kami ajukan kecepatan kereta bisa sampai 90 kilometer per jam sehingga waktu tempuh lebih cepat,” katanya.

Ia menyebutkan potensi penumpang KRL di Daop 6 Yogyakarta cukup tinggi yang dapat terlihat dari padatnya volume kendaraan di jalan raya Yogyakarta-Solo.

Logo baru PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI / Kai.id
Logo Baru KAI

Sementara itu, KAI telah resmi mengubah logo perusahaannya pada Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-75, Senin, 28 September 2020, lalu untuk merepresentasikan visi dan budaya perusahaan yang telah bertransformasi.

“Hadirnya visi dan budaya perusahaan yang baru, perlu diikuti dengan perubahan logo sebagai upaya transformasi yang berkelanjutan,” ujar VP Public Relations KAI Joni Martinus.

Visi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang baru ini ditetapkan pada 20 Januari 2020 yaitu Menjadi Solusi Ekosistem Transportasi Terbaik untuk Indonesia. Sebelumnya, sejak 2011 Visi KAI adalah Menjadi Penyedia Jasa Perkeretaapian Terbaik yang Fokus pada Pelayanan Pelanggan dan Memenuhi Harapan Stakeholders.

Adapun budaya perusahaan KAI juga telah berubah pada 14 Agustus 2020 menjadi AKHLAK yaitu Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Adapun sebelumnya, sejak 2011, budaya perusahaan KAI adalah 5 Nilai Utama yaitu Integritas, Profesional, Keselamatan, Inovasi, dan Pelayanan Prima.

Joni menjelaskan, bahwa perubahan logo ini merupakan rangkaian dari transformasi perusahaan dari berbagai aspek yang sudah terjadi sebelumnya.

Tak hanya logo KAI, perubahan logo juga dilakukan pada anak usaha KAI. Logo anak usaha KAI kini terdiri dari logo KAI dan nama Anak Perusahaan. Perubahan tersebut diharapkan akan semakin mengintegrasikan bisnis KAI Group dan memudahkan proses komunikasi dengan para stakeholder.

“Pembuatan logo tersebut sudah melalui proses pertimbangan yang matang dan mendalam dari berbagai aspek. Penerapan perubahan logo baru ini akan dilakukan secara bertahap pada berbagai media yang memungkinkan,” tegas Joni.

Meski demikian, kehadirannya sudah dapat memberikan semangat dan energi baru bagi para insan KAI untuk terus menghadirkan pelayanan bagi masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya inovasi dalam upaya peningkatan layanan yang diberikan bagi pelanggan dalam rangkaian HUT ke-75 KAI.

Inovasi-inovasi tersebut di antaranya layanan Last Mile atau transportasi lanjutan untuk angkutan penumpang dan barang, Membership KAI Access, pembayaran tiket kereta api menggunakan QRIS, peluncuran kartu COMMUTERPAY, fasilitas Skybridge Stasiun Bandung, pencanangan Slasar Malioboro, pengelolaan KA Lokal oleh KCI di 2 wilayah, launching Loko Coffee Shop Semarang, dan sebagainya.

Logo baru ini akan memberikan spirit baru bagi KAI dan meremajakan KAI membawa darah segar sehingga kai tetap relevan dgn jamannya. Hadirnya logo baru ini diharapkan akan menjadikan momentum bagi KAI untuk dapat bertahan pada masa pandemi dan terus berkembang di masa yang akan datang.

“Dengan semangat dan energi baru yang muncul dari logo ini, akan memacu seluruh insan KAI untuk terus berinovasi dalam menghadirkan berbagai peningkatan pelayanan bagi para pelanggan,” tutup Joni. (SKO)

Tags:
BUMNCommuter LineHeadlineKAIKereta Api IndonesiaKereta PramekskrlPrambanan EkspresPrameksPT Industri Kereta Api (Persero)PT INKA (Persero)PT Kereta Api Indonesia (Persero)PT Kereta Commuter Indonesia (KCI)Sejarah kereta apiSoloyogyakarta
%d blogger menyukai ini: