Penjualan Hypermart Milik Grup Lippo Ambrol Jadi Rp8,7 Triliun

May 12, 2020, 03:29 PM UTC

Penulis: Ananda Astri Dianka

Hypermart adalah salah satu produk ritel milik PT Matahari Putra Prima Tbk. / Facebook @Hypermart-Tanjung-Pinang-City-Center-652877128194713

Perusahaan ritel Hypermart milik konglomerat Mochtar Riady Grup Lippo, PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA) mengalami penurunan penjualan 18,69% menjadi Rp8,7 triliun sepanjang 2019.

Meski belum menyampaikan secara detail kinerja keuangannya, emiten milik Grup Lippo itu menyampaikan gambaran singkat bagaimana bisnis perseroan di sepanjang 2019.

Director – Corporate Secretary & Public Affairs Matahari Putra Prima, Danny Kojongian menjelaskan, tahun 2019 mencerminkan progres peningkatan perseroan untuk menghadirkan produk-produk segar dan memfokuskan kembali bisnisnya kepada konsumen ritel.

Dia menuturkan, fokus utama perseroan ditujukan untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan dasar harian pelanggan yang berkelanjutan melalui berbagai ragam produk segar, groseri dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Danny merinci, produk segar mencatat pertumbuhan berkelanjutan sebesar 4% dengan kontribusi penjualan 24% dari total penjualan 2019. “Perseroan juga terus mengurangi bisnis B2B yang bermarjin rendah dan mengarahkan sumber daya untuk mendukung pertumbuhan bisnis ritel, walaupun hal ini menyebabkan total penjualan bersih yang lebih rendah sebesar pada Rp8,7 triliun,” ungkap Danny melalui keterangan tertulis di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2020.

Jika dibandingkan dengan periode 2018, maka total penjualan perseroan merosot 18,69% dari Rp10,7 triliun.

Pada awal 2019, perusahaan pemilik gerai Hypermart ini, meluncurkan format toko terbarunya – HyFresh, yang merupakan interpretasi terbaru dari supermarket komunitas dengan fokus yang lebih besar pada produk segar dan groseri dengan harga yang kompetitif untuk menarik minat rumah tangga untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Pada kuartal IV-2019, perusahaan milik taipan Mochtar Riady ini juga mengumumkan kolaborasinya dengan The Walt Disney Indonesia untuk menghadirkan pengalaman berbelanja unik kelas dunia pada produk-produk segar kepada konsumen di semua toko.

Menurut Danny, upaya ini membuat perseroan mampu mengurangi out of stock (OOS), sementara tingkat perputaran persediaan juga lebih baik menjadi 55 hari dari 58 hari pada tahun sebelumnya.

“Strategi di atas, ditambah dengan kebijakan penetapan harga yang baru, telah secara substansial meningkatkan marjin laba bruto menjadi 18,3% dari penjualan, meningkat 441 basis poin dari 2018. Profitabilitas EBITDA terus memberikan peningkatan positif untuk tahun 2019,” imbuh Danny.

Selain itu, lanjut Danny, langkah-langkah efisiensi operasional yang telah dilaksanakan sejak akhir 2017 telah menghasilkan perbaikan substansial pada struktur biaya di mana biaya pemasaran dan umum & administrasi pada tahun 2019 turun 14,3% year-on-year (yoy) dengan penghematan total sebesar Rp299 miliar.

“Kami tetap berkomitmen untuk meninjau lebih lanjut dan menerapkan langkah-langkah efisiensi operasional ini untuk meningkatkan profitabilitas di masa mendatang,” jelas Danny.

Matahari Putra Prima melakukan kegiatan usaha utama berupa jaringan toko swalayan yang menyediakan berbagai macam barang seperti barang kebutuhan sehari-hari hingga barang elektronik.

Sampai dengan akhir tahun 2019, perseroan mengoperasikan toko Hypermart, Foodmart, Hyfresh, Primo, Boston Health & Beauty, FMX dan SmartClub di lebih dari 150 lokasi di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia.

Pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2020, pukul 15.00 WIB, saham MPPA anjlok 5,13% sebesar 6 poin ke level Rp111 per lembar. Kapitalisasi pasar saham MPPA mencapai Rp843,26 miliar dengan imbal hasil negatif 36,21% dalam setahun terakhir.

Saham MPPA digenggam oleh Mochtar Riady lewat PT Multipolar Tbk. (MLPL) yang kini dikendalikan oleh anaknya, James T. Riady. Mochtar Riady adalah konglomerat terkaya ke-12 di Indonesia versi majalah Forbes 2019. Kekayaannya ditaksir mencapai US$2,1 miliar setara Rp33,6 triliun dari properti, ritail, kesehatan, media, dan pendidikan. (SKO)