Penjualan Hunian Merosot, Pendapatan Lippo Cikarang Anjlok Jadi Rp1,18 Triliun

03 November 2021 15:45 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Laila Ramdhini

Ilustrasi mal Lippo Cikarang / Dok. Perseroan

JAKARTA - PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) membukukan pendapatan sebesar Rp1,18 triliun pada kuartal II-2021. Jumlah ini menurun 25,8% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan pendapatan kuartal III-2020 yang sebesar Rp1,59 triliun.

CEO Lippo Cikarang Rudy Halim mengungkapkan penurunan pendapatan ini utamanya disebabkan oleh penurunan penjualan rumah tinggal dan apartemen dari Rp1,12 triliun per kuartal III-2020 menjadi Rp819,6 miliar pada periode ini.

“Pendapatan turun karena unit apartemen Orange County lebih sedikit yang diserahterimakan pada periode ini,” ungkapnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Rabu, 3 November 2021.

Selain itu, Lipoo Cikarang juga mencatat penurunan penjualan kavling industri, lahan komersial, dan ruko yang menyumbang 6,5% dari total pendapatan.

Kendati demikian, Rudy mengaku tetap optimistis memenuhi target pendapatan 2021 yang sebesar Rp1,35 triliun. Lippo Cikarang, lanjutnya, tetap berkomitmen untuk melayani kebutuhan calon pemilik rumah. Menurutnya, jadwal serah terima yang tepat waktu akan mendukung komitmen pengiriman Lippo Cikarang kepada pembeli rumah.

Sejauh ini, ia mengeklaim LPCK telah meningkatkan panduan pemasaran penjualan tahun ini dari Rp1,15 triliun menjadi Rp1,35 triliun.  Ini didorong oleh peningkatan penjualan komersial dan industri.

Selain itu, perseroan juga meluncurkan beberapa cluster di perumahan tapak Waterfront Estates selama 19 bulan terakhir sejak Maret 2020. Proyek ini terdiri dari 254 unit dan mulai diserahterimakan kepada pemilik pada akhir April 2021.

Kemudian, ada Silvercreek Estate, Cluster Waterfront Estates kedua yang terdiri dari 199 unit, telah diserahterimakan kepada pemilik pada akhir Agustus 2021.

Selain pendapatan, laba kotor Lippo Cikarang juga turun 21,6% menjadi Rp500,1 miliar pada periode ini. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu laba kotor yang diperoleh sebesar Rp637,7 miliar.

Pasalnya, rumah tinggal dan apartemen yang merupakan 62,9% dari total laba kotor mengalami penurunan 20,6% menjadi Rp314,6 miliar. Adapun laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga senasib, yakni turun 43,7% yoy menjadi Rp344,2 miliar dari Rp612,4 miliar.

Per 30 September 2021, Lippo Cikarang mencatat EBITDA sebesar Rp322,5 miliar, turun 23,5% dari Rp421,3 miliar pada periode tahun lalu. Rudy bilang, penurunan ini juga disebabkan oleh sedikitnya serah terima yang tersisa di Orange County.

Adapun total aset Lippo Cikarang turun tipis menjadi Rp9,5 triliun, dari Rp9,7 triliun per akhir 2020. Kemudian saldo kas pada akhir September 2021 juga turun menjadi Rp377,5 miliar, dari Rp635,4 miliar pada akhir tahun 2020.

“Penurunan ini disebabkan oleh dividen yang dibagikan pada bulan Agustus 2021. Pasalnya, dividen ini merupakan yang pertama dibayarkan Lippo Cikarang sejak tahun 1997, dengan jumlah dividen yield sebesar 6,33 persen,” jelasnya.

Berita Terkait