Pengusaha Hotel Kehilangan Pendapatan Rp50 Triliun Sepanjang 2020

January 20, 2021, 06:11 PM UTC

Penulis: Laila Ramdhini

Hotel Indigo Seminyak, Bali. / Dok. PT Agung Podomoro Land Tbk

JAKARTA – Pengusaha yang tergabung dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp50 triliun sepanjang 2020 akibat pandemi COVID-19. Kerugian ini diakibatkan pembatasan aktivitas masyarakat serta operasional hotel dan restoran.

Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani mengatakan bisnis hotel mengalami tekanan berat selama pandemi. Hal ini terlihat dari tingkat keterisian kamar hotel di seluruh Indonesia yang anjlok menjadi 30% pada 2020.

“Kami perkirakan tahun 2020 kehilangan potensi pendapatan sebesar Rp50 triliun untuk sekitar 800.000 kamar,” kata Hariyadi, saat konferensi pers virtual, belum lama ini.

Hariyadi mengungkapkan segmen yang paling terdampak adalah resort hotel di kawasan pariwisata luar Jawa, seperti Bintan, Bali, dan Lombok. Hal ini disebabkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) maupun larangan masuk bagi wisatawan asing ke Tanah Air.

Meski belum menghimpun data secara nasional, PHRI mendapat laporan dari para pengusaha yang telah menutup hotelnya. “Sudah banyak hotel yang tutup karena tidak bisa menutupi biaya operasional,” ujar dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PHRI Bidang Restoran Emil Arifin menuturkan bisnis restoran juga terpuruk akibat pandemi COVID-19. Baik restoran yang berada di pusat belanja maupun stand alone, kehilangan banyak pengunjung akibat PSBB. Emil memperkirakan hingga Februari 2021 di DKI Jakarta saja ada 1.600 restoran yang bakal tutup.

“Hasil survei kami, hingga Oktober ada 1.030 hotel yang tutup permanen dan 400 tutup sementara. Februari nanti diperkirakan total 1.600 restoran yang tutup,” kata Emil.

Prospek Bisnis Tahun 2021

Lebih lanjut, Hariyadi mengatakan pengusaha sulit memprediksi masa depan bisnis properti pada 2021. Menurut dia, tren kenaikan dari sisi okupansi kamar saja hanya tumbuh tipis menjadi 40%.

“Yang membuat kami optimistis yaitu masyarakat sudah mulai terbiasa dengan adaptasi kebiasaan baru. Masyarakat mau bepergian dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,” kata Hariyadi.

Konsultan properti Colliers International Indonesia memprediksi kinerja bisnis perhotelan bakal membaik pada pertengahan tahun 2021. Syaratnya, instansi pemerintah dan bisnis sebagai konsumen terbesar perhotelan bisa kembali menggelar kegiatan di hotel. Sebab, hingga saat ini industri hotel masih bergantung pada aktivitas meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE).

Di sisi lain, vaksinasi COVID-19 juga diharapkan menimbulkan kepercayaan masyarakat untuk mau melakukan kegiatan bisnisnya kembali. “Saat ini sudah mulai ada kegiatan di hotel, namun belum bisa dikatakan kembali normal seperti semula. Government masih menjadi pasar terbesar bagi hotel di Jakarta. Diharapkan pertengahan tahun ini sudah kembali membaik,” kata Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, belum lama ini.