Pengelola Rumah Sakit Mitra Keluarga Buyback Saham Maksimum Rp200 Miliar

24 Agustus 2021 12:05 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Laila Ramdhini

Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi / Mitrakeluarga.com

JAKARTA - Pengelola Rumah Sakit Mitra Keluarga, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) melakukan pembelian kembali alias buyback saham sebanyaknya-banyaknya 83 juta lembar saham atau maksimum Rp200 miliar.

Aksi korporasi yang dilaksanakan mulai 23 Agustus 2021 hingga 22 November 2021 ini membatasi harga pembelian saham sebesar Rp2.400 per saham.

Direktur MIKA Joyce V. Handajani menegaskan rencana buyback saham ini tidak akan berdampak terhadap pendapatan perseroan. Meskipun demikian, aksi ini akan mengakibatkan penurunan jumlah saham beredar.

“Namun, diperkirakan tidak berdampak signifikan terhadap laba per saham perseroan,” mengutip keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, 24 Agustus 2021.

Adapun pembelian kembali saham ini akan dibiayai dari kas internal perseroan. Dengan demikian, Joyce menyebut, MIKA tidak akan membutuhkan biaya tambahan.

“Perseroan memiliki modal kerja dan cadangan dana yang memadai,” tambahnya.

Lebih lanjut, Joyce mengatakan  buyback saham ini diharapkan dapat menstabilkan harga dalam kondisi pasar yang fluktuatif. Selain itu, bisa memberikan keyakinan kepada investor atas nilai saham fundamental.

“Semoga dapat memberikan fleksibilitas bagi perseroan dalam mengelola modal jangka panjang. Ketika perseroan membutuhkan tambahan modal, saham treasuri dapat dijual dengan nilai yang optimal,” ujarnya.

Kinerja semester I-2021

Sebagai informasi, sepanjang semester I-2021, laba bersih yang diraup perseroan melejit 124% year-on-year (yoy) menjadi Rp711,9 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, laba yang tercatat sebesar Rp317,6 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, 9 Agustus 2021, pendapatan perseroan juga naik hingga 64,2% yoy. Jumlah pendapatan per semester I-2020 sebesar Rp1,4 triliun, menjadi Rp2,3 triliun pada periode ini.

Pendapatan paling besar dihasilkan dari rawat inap, yakni Rp1,58 triliun. Jumlah ini meningkat hingga 69% yoy dibandingkan dengan pendapatan rawat inap semester I-2020 sebesar Rp934 miliar. Sementara itu, pendapatan sisanya berasal dari rawat jalan yang sebesar Rp799,8 miliar.

Meskipun demikian, beban pokok pendapatan juga naik, dari semula Rp789,3 miliar per semester I-2020 menjadi Rp1,1 triliun sepanjang enam bulan pertama 2021.

Beban paling besar berasal dari kebutuhan obat dan perlengkapan medis, yakni sebesar Rp572 miliar. Diikuti oleh gaji dan kesejahteraan sebesar Rp263 miliar, serta layanan penunjang medis Rp155 miliar.

Adapun total liabilitas perseroan naik tipis 1,16% dari Rp855 miliar per akhir 2020, menjadi Rp868 miliar per semester I-2021. Total ekuitas periode ini tercatat Rp6,1 triliun, dari sebelumnya Rp5,5 triliun.

Total aset perseroan per semester I-2021 tercatat sebesar Rp7,06 triliun, naik 10,8% dari Rp6,37 triliun per akhir tahun lalu.

Berita Terkait