Pengamat Sosial: Survei Lingkungan Belajar Wujudkan Kultur Belajar Positif

29 Juli 2021 20:35 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Laila Ramdhini

Pelajar SD, SMP, dan SMA tengah mengikuti upacara di sekolah.

JAKARTA – Dukungan positif dari berbagai pihak terhadap implementasi Survei Lingkungan Belajar terus bermunculan. Sejumlah pengamat psikologi dan sosial menilai inisiatif ini akan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dua elemen sekaligus yakni fasilitas dan budaya belajar.

Penulis dan Aktivitas Kesetaraan Gender Kalis Mardiasih menegaskan dukungannya dan berharap pelaksanaan survei berjalan baik dan lancar kedepan. 

"Saya langsung memberikan dukungan untuk Asesmen Nasional ini karena secara tegas di poin Survei Lingkungan Belajar ada dukungan untuk kesetaraan gender," ujarnya dalam diskusi bertajuk "Asesmen Nasional, Akankah Efektif Mengubah Kualitas Pendidikan?" di Jakarta, Rabu, 28 Juni 2021.

Survei Lingkungan Belajar adalah satu dari tiga komponen Asesmen Nasional yang merupakan Program Merdeka Belajar Episode Pertama. Selain survei ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) juga melakukan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter.    

Kalis menegaskan kesetaraan gender di dunia pendidikan sangat penting. Survei Lingkungan Belajar dinilai mampu menggambarkan dua aspek mulai dari komponen fasilitas belajar dan budaya belajar yang mendukung kesetaraan gender. Fasilitas maupun budaya belajar di sekolah, kata Kalis, harus mampu mengakomodasi berbagai perbedaan mendasar laki-laki dan perempuan.  

"Dukungan Survei Lingkungan Belajar untuk kesetaraan gender sangat jelas. Di poin pertama dan kedua ada intervensi untuk menilai komitmen sekolah dalam pencegahan dan juga komitmen untuk menangani kasus kekerasan seksual," imbuhnya.

Sebelumnya Kemendikbudristek menyampaikan Survei Lingkungan Belajar murni mengukur kualitas pembelajaran, iklim keamanan, dan iklim kebinekaan sekolah.  Hal ini mencakup aspek yang secara langsung berkaitan dengan pembelajaran seperti fasilitas belajar, praktik pengajaran, refleksi guru, dan kepemimpinan kepala sekolah serta mengukur aspek yang menjadi prakondisi bagi pembelajaran seperti iklim keamanan dan iklim kebinekaan sekolah

Pakar Psikologi Sosial Universitas Indonesia Mirra Noor Milla juga menegaskan siap mendukung pelaksanaan Asesmen Nasional khususnya pengambilan kebijakan melalui Survei Lingkungan Belajar. Pengumpulan data ini sangat berguna untuk melakukan evaluasi dan menentukan kebijakan.

Dia menjelaskan saat ini fenomena propaganda ektrimisme ideologi secara spesifik menyasar kelompok muda, yaitu usia SMP. Belum lagi perkembangan teknologi informasi yang menguatkan polarisasi ideologi. Hal ini berpotensi mengancam sikap inklusif. 

"Saran saya untuk mengumpulkan data kita perlu ada banyak cara sehingga bisa dijadikan sistem data yang secara berkala diupdate. Jadi tidak hanya Kemendikbudristek tetapi bisa dilengkapi dari berbagai elemen lain, termasuk sekolahnya sendiri," pungkasnya.

Berita Terkait