Pengamat Menilai BI Perlu Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,75 Persen

January 20, 2021, 03:13 PM UTC

Penulis: Ananda Astri Dianka

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. / Facebook @BankIndonesiaOfficial

JAKARTA – Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky berpendapat bahwa Bank Indonesia (BI) harus menahan suku bunga acuan pada 3,75% untuk bulan ini.

Menurutnya, ketidakpastian yang terjadi tahun lalu akibat pandemi COVID-19 masih berlanjut saat ini. Untuk itu, ia berpandangan suku bunga acuan BI saat ini masih layak dipertahankan.

“Dengan tetap menjaga kebijakan makroprudensial untuk mengelola stabilitas sektor keuangan,” kata Riefky dalam publikasi, Rabu, 20 Januari 2021.

Sebagai gambaran, permintaan agregat dan daya beli masyarakat yang sangat lemah merupakan fenomena yang cukup global akibat COVID-19. Ini tercermin tingkat inflasi terendah sepanjang sejarah.

Angka inflasi 2020 tercatat sebesar 1,68% (year on year/ yoy), turun signifikan dibandingkan dengan inflasi 2019 sebesar 2,72% (yoy).

Angka ini, sambung Riefky, cukup menggambarkan lemahnya aktivitas ekonomi tahun lalu. Hal ini menyebabkan guncangan yang sangat besar hampir di semua negara di dunia.

Namun, di saat negara-negara di dunia cukup berhasil dalam mengatur fokus mereka dan mencoba mengatasi masalah kesehatan dengan tepat, Indonesia terlihat masih berjuang untuk menangani situasi tersebut.

Menurut Riefky, jelang akhir 2020, tanda-tanda pemulihan yang penting belum terlihat di Indonesia. Terlepas dari itu, berbagai rentetan kejadian telah terjadi dalam kondisi perekonomian Indonesia.

Kilas Balik 2020

Dari sisi neraca keuangan, hasil pemilu Amerika Serikat (AS) dan peluncuran vaksin pada pertengahan November lalu memicu sentimen positif bagi investor.

Sehingga melimpahkan likuiditas dalam pasar negara berkembang dan menyebabkan terjadinya apresiasi mata uang negara berkembang terhadap dolar AS dengan cepat.

Dari sisi neraca transaksi berjalan, perdagangan luar negeri Indonesia juga menunjukkan tanda yang cukup baik. Badan Pusat Statistik melaporkan, peraca perdagangan pada Desember 2020 mengalami peningkatkan.

Ekspor bulanan mencapai US$16,5 miliar, meningkat 14,6%, yoy dan 8,4% secara (month to month/ mtm). Kinerja ini mencatatkan nilai ekspor tertinggi sejak Desember 2013.

“Sayangnya, perkembangan kondisi kesehatan publik yang suram terus terjadi.”

Kasus harian COVID-19 yang terus tinggi mendorong pemerintah untuk kembali menerapkan tindakan pembatasan sosial sebagai akibat dari kelebihan kapasitas fasilitas kesehatan publik.

Selanjutnya, eskalasi dalam sektor keuangan dan sektor riil masih belum ada kejelasan karena sangat bergantung pada situasi pandemi yang sedang berlangsung.