Penetrasi Digital Semakin Masif, Kinerja Penyaluran Kredit BRI Tuai Apresiasi Kementerian BUMN

25 Agustus 2021 17:28 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Gedung BRI di Kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. / Bri.co.id

JAKARTA – Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga menyebut kinerja moncer PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terjadi berkat penetrasi digital yang semakin masif. Walhasil, BRI mampu memperlebar penyaluran kredit secara signifikan pada semester I-2021.

"Ini adalah hasil dari transformasi digital yang dilakukan oleh BRI. Apalagi setelah pandemi kita tahu bahwa digitalisasi merupakan satu langkah penting dan BRI berhasil mengantisipasi kondisi pandemi dengan melakukan digitalisasi terhadap layanan-layanannya," ucap Arya dalam keterangan resmi, Rabu, 25 Agustus 2021.

BRI mengalami peningkatan penyaluran kredit dengan layanan digital hingga 106%. Tidak heran, Arya berani menyebut BRI turut berkontribusi menjaga pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tidak kesulitan mengakses layanan keuangan formal.

“BRI bisa mengantisipasi dinamika situasi yang berkembang dan masyarakat juga menikmati layanan digital tersebut sehingga tidak heran kalau UMKM banyak mengajukan permohonan kredit lewat digital di bank BRI," ucap Arya.

Bank pelat merah ini memang mencatatkan kinerja penyaluran yang signifikan pada paruh pertama tahun ini. Kredit segmen mikro BRI melesat 17% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp366,56 triliun dari sebelumnya Rp236,82 triliun.

Sementara kredit usaha kecil dan menengah BRI pada semester I-2021 tercatat sebesar Rp236,82 triliun. Maka, segmen UMKM secara keseluruhan mencatatkan realisasi kredit sebesar Rp749,33 triliun.

Nilai itu setara 80,6% dari total penyaluran kredit di BRI pada semester I-2021 yang sebesar Rp929,40. Adapun penyaluran kredit lain dari segmen konsumer dan korporasi pada paruh pertama 2021 ini berada di angka Rp145,94 triliun dan Rp180,08 triliun.

Meski begitu, BRI mencatat rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross sebesar 3,30%. Angka itu hanya berselisih tipis dari NPL gross perbankan nasional pad Juni 2021 yang sebesar 3,24%.

BRI pun menyiapkan NPL coverage atau pencadangan sebesar 254,85% atau 2,5 kali lipat dari total NPL Gross. Ditinjau dari entitas tunggal, total aset BRI pada semester I-2021 ini tergelincir. Nilai aset BRI mengalami penurunan tipis dari Rp1.421,78 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp1.411,62 pada akhir Juni 2021.

Meski begitu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI masih berhasil tumbuh tipis 2,33% menjadi Rp1.096,45 triliun pada semester I-2021. Dana itu terdiri dari tabungan Rp461,70, giro sebesar Rp191,39 triliun, deposito Rp443 triliun. 

Dengan capain ini, BRI meraup pertumbuhan laba bersih sebesar 22% yoy  pada semester I-2021. Laba bersih bank yang fokus pada pembiayaan UMKM ini naik dari Rp10,20 triliun pada semester I-2020 menjadi Rp12,44 triliun pada semester I-2021.

Berita Terkait