Peneliti Vaksin: Hanya Antibodi yang Dapat Meredakan Gejala Coronavirus

August 09, 2020, 03:14 PM UTC

Penulis: AZ

Foto: Sputnik

MOSKOW-Perlombaan berisiko tinggi sedang berlangsung untuk mengembangkan vaksin COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru.  Secara bersamaan, para ilmuwan terus mencari cara untuk meringankan gejala pada pasien yang terinfeksi.

Alexander Ginzburg, seorang ahli mikrobiologi Rusia terkemuka mengatakan bahwa antibodi yang diberikan secara intravena adalah satu-satunya hal yang dapat meredakan gejala virus corona.

Direktur Institut Gamaleya di Moskow ini percaya bahwa kondisi pasien hanya dapat diatasi dengan antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi virus tertentu. “Selain itu bisa dikatakan seperti mencambuk kuda yang mati,” tambah peneliti sebagaimana dikutip Sputnik 8 Agustus 2020.

Pria berusia 68 tahun itu mengatakan bahwa dia merujuk pada antibodi monoklonal (imunoglobulin penolak virus yang disintesis di laboratorium dari kloning sel kekebalan).

Transfusi Plasma

Metode lain yang digunakan untuk mengobati pasien virus corona adalah transfusi plasma pemulihan. Dalam hal ini adalah dengan memanfaatkan cairan darah yang dikumpulkan dari pasien yang sudah pulih dan sudah memiliki antibodi.

Terapi plasma konvalesen masih dalam uji klinis, meskipun data awal menunjukkan terapi ini membantu mengurangi kematian akibat COVID-19.

Ginzburg menjelaskan bahwa vaksin bersifat profilaksis sedangkan antibodi bersifat terapeutik atau melawan penyakit yang telah terdeteksi.

“Ini berarti jika seseorang jatuh sakit, mereka lebih baik memiliki antibodi yang diberikan untuk memblokir virus daripada makan kenari atau kacang tanah,” kata Ginzburg. Dia menambahkan bahwa antibodi saat ini bisa diberikan secara intravena, menggunakan infus.

Komentarnya muncul setelah laporan bahwa pasien virus corona dapat meredakan gejala mereka dengan konsentrasi yang lebih besar dari enzim pengubah angiotensin 2, atau ACE2, dalam darah mereka.

Reseptor secara efektif adalah protein yang menyediakan titik masuk bagi virus corona untuk menyerang sel manusia dan bereplikasi. Bahan ini secara alami ada di berbagai bagian dan produk seperti anggur merah, raspberry, blueberry, cranberry, kakao, dan kulit kacang.

Institut Gamaleya yang dikelola negara bersama dengan Kementerian Pertahanan telah mengembangkan vaksin pertama Rusia untuk melawan virus corona. Vaksin yang sedang dalam uji klinis tahap akhir itu rencananya akan didaftarkan paling cepat minggu depan.

Teknologi Rusia adalah vaksin vektor berdasarkan DNA adenovirus jenis SARS-CoV-2, virus flu biasa. Peneliti menyematkan materi genetik dari virus corona ke dalam virus pembawa yang tidak berbahaya. Tujuannya adalah untuk mengirimkan sebagian kecil patogen ke dalam tubuh manusia dan merangsang respons kekebalan