Pendapatan Turun, Laba Adhi Karya Justru Naik Jadi Rp8,28 Miliar pada Semester I-2021

04 Agustus 2021 18:27 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Amirudin Zuhri

Pengerjaan proyek PT Adhi Karya

JAKARTA - Emiten konstruksi pelat merah PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) membukukan laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp8,28 miliar sepanjang semester I-2021. Laba tersebut naik 20% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp6,9 miliar.

Namun sebaliknya, pendapatan perseroan periode ini turun 19,5% dari Rp5,52 triliun per semester I-2020, menjadi Rp4,44 triliun. Pendapatan tersebut berasal dari jasa konstruksi sebesar Rp3,58 triliun, EPC sebesar Rp106,3 miliar, properti atau real estat sebesar Rp377,7 miliar, dan investasi infrastruktur Rp371,4 miliar.

Di sisi lain, perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan, dari Rp4,7 triliun per enam bulan pertama 2020, menjadi Rp3,7 triliun per semester I-2021.

Adapun total liabilitas ADHI mencapai Rp33,35 triliun, naik dari Rp32,52 triliun per akhir tahun lalu.  Untuk total ekuitas, jumlahnya naik meski tipis, yakni Rp5,57 triliun menjadi Rp5,58 triliun per semester I-2021.

Hingga semester I tahun ini, total aset perseroan mencapai Rp38,93 triliun, tumbuh dari dari total aset Rp38,09 triliun per akhir Desember tahun lalu.

Kontrak Baru Rp6,7 Triliun

Pada semester I-2021, perseroan diketahui berhasil mengantongi kontrak baru senilai Rp6,7 triliun. Jumlah ini meningkat 45% dari perolehan kontrak baru semester I-2020 yang sebesar Rp4 triliun.

Perolehan kontrak baru Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya sebesar Rp6,7 triliun ini berarti ADHI baru mencapai 27,92% dari target kontrak barunya tahun ini.

Adapun lini bisnis konstruksi berkontribusi sebesar 88,83%, energi sebesar 1,71%, properti sebesar 9,03%, dan sisanya merupakan lini bisnis lainnya.

Dari sisi tipe pekerjaan, proyek jalan dan jembatan berkontribusi terbesar dengan 44,41%, proyek infrastruktur lainnya seperti pembuatan bendungan, bandara, jalur kereta api, dan proyek energi, serta proyek lainnya sebesar 32,44%, proyek gedung 20,98%, dan properti 2,17%.

Dari sumber dananya, proyek kepemilikan swasta atau lainnya berkontribusi terbesar yaitu 65,01%, dari pemerintah sebesar 32,94%, dan sumber dari BUMN sebesar 2,05%.

Untuk tahun ini, ADHI menargetkan kontrak baru senilai total Rp24 triliun. Terkait rencana perolehan semester kedua, ADHI saat ini tengah mengikuti proses tender untuk beberapa proyek perkeretaapian, proyek infrastruktur, proyek gedung, serta proyek lainnya.

Berita Terkait