Pendapatan Menurun, Ini 5 Proyek Merdeka Copper Gold (MDKA) yang Jadi Aset Utama

21 Mei 2021 16:17 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Presiden Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), Tri Boewono (kiri) bersama dengan Komisaris MDKA Garibaldi Thohir (tengah) dan Komisaris Independen MDKA M. Munir (kanan) di sela Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa (RUPST dan RUPSLB) di Jakarta, Rabu, 29 Juli 2020. MDKA mencatatkan kinerja gemilang pada 2019 dengan diselesaikannya proyek ekspansi oksida di Tambang Emas Tujuh Bukit serta produksi emas dan perak perusahaan melampaui target 2019 dibandingkan dari tahun sebelumnya. Dalam RUPSLB hari ini, para pemegang saham MDKA menyepakati untuk melakukan pembelian kembali saham atau _buyback_ sebanyak-banyaknya 2% saham dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan dengan alokasi dana maksimal Rp 568 miliar dilaksanakan secara bertahap sampai paling lama 18 bulan. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Emiten tambang PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menyebut ada lima aset utama yang menjadi fokus garapan tahun ini.

“Pertama, proyek tembaga atau emas tujuh yang kini sedang dalam tahap studi prakelayakan,” mengutip paparan public expose yang diterbitkan perseroan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, 21 Mei 2021.

Proyek bernama Tembaga TB ini memiliki potensi produksi hingga 1,9 miliar ton, dengan kandungan 8,8 juta ton tembaga dan 28 juta oz emas inferred resource. Targetnya, operasional proyek ini bisa dimulai pada kuartal I-2021.

Kedua, proyek Wetar atau Morowali Acid Iron Metal. Meskipun demikian, publik lebih mengenal namanya sebagai Proyek AIM. Belanja modal yang dikeluarkan MDKA untuk pabrik pertama mencapai US$290 juta atau setara Rp4,1 triliun (asumsi kurs Rp14.400 per dolar Amerika Serikat).

Manajemen menyebut, studi kelayakan proyek ini sudah selesai pada Maret 2021 sehingga saat ini sudah mulai tahap konstruksi. Adapun target dimulainya produksi pada kuartal IV-2022.

Untuk proyek ketiga, bernama Emas Pani JV dengan peluang 4,6 juta oz emas. Proyek ini diharapkan mampu menghasilkan lebih dari 250.000 oz emas per tahun dengan jangka waktu 15 tahun.

Selanjutnya, tambang emas tujuh bukit yang memiliki cadangan emas sebesar 702.000 oz. Pada kuartal I tahun ini, MDKA tercatat memproduksi emas sebanyak 16.585 oz, lebih tinggi dibandingkan dengan produksi kuartal IV-2020 yang sebesar 5.355 oz.

Terakhir, proyek Wetar Copper Production atau Wetar Copper Mine. Cadangan tembaga yang tersimpan mencapai 108 ribu ton untuk menunjang produksi sebesar 14.000-20.000 ton per tahun.

Seperti halnya produksi tambang emas tujuh bukit, sepanjang tiga bulan pertama 2021, MDKA menghasilkan 2.489 ton tembaga. Jumlah ini meningkat dari produksi kuartal IV tahun lalu yang sebesar 1.017 ton.

Rugi Rp71 Miliar Sepanjang Kuartal I-2021

Sebagai informasi, sepanjang tiga bulan pertama 2021, MDKA mencatat rugi bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$4,9 juta atau setara Rp71 miliar (asumsi kurs Rp14.492 per dolar Amerika Serikat).

Padahal, pada periode yang sama 2020, emiten tambang milik konglomerat Sandiaga Uno dan Boy Thohir ini masih meraup laba Rp215,9 miliar.

Hal sama juga terjadi pada pendapatan perseroan yang turun hingga lebih dari separuh menjadi Rp673,8 miliar, dari Rp1,5 triliun per kuartal I-2020.

Dalam laporan keuangan yang dirilis di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 19 Mei 2021, turunnya pendapatan ini disebabkan oleh merosotnya penjualan emas, perak, dan tembaga katoda pada pihak ketiga.

Untuk ekspor, penjualan produk tersebut tercatat US$40 juta, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$108 juta. Di sisi lain, penjualan domestk masih lebih tinggi, yakni dari US$1 juta menjadi US$5,9 juta.

Perseroan pun telah berupaya menekan beban pokok penjualan, terbukti dari berkurangnya pengeluaran yang semula rugi hingga Rp1 triliun menjadi rugi Rp705,7 miliar.

Sebaliknya, total liabilitas MDKA mengalami kenaikan tipis 2% dari Rp5,3 trilun per akhir 2020, menjadi Rp6,36 triliun per kuartal I-2021.

Adapun total aset perseroan per kuartal I tahun ini tercatat Rp16,8 triliun, meningkat 25,3% dibandingkan dengan Rp13,4 triliun per akhir 2020.

Peningkatan aset tersebut disebabkan oleh kenaikan pada pos kas dan bank sebesar US$226,3 juta dan piutang lain-lain sebesar US$20,9 juta.

Selain itu, didorong pula oleh penerbitan Obligasi Berkelanjutan II tahap I tahun 2021 sebesar Rp1,5 triliun. Di sisi lain, kenaikan piutang lain-lain atas klaim asuransi juga dialami oleh perseroan. Hal ini disebabkan oleh kerusakan material dan gangguan bisnis di proyek tambang Tujuh Bukit sebesar US$20 juta. (RCS)

Berita Terkait