Pendapatan Cukai Tumbuh 18,2% pada Juli 2021, Didorong oleh Rokok

26 Agustus 2021 09:00 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Ilustrasi / Foto: Sanyangtaxconsultants.com

JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan penerimaan negara dari cukai tumbuh 18,2% pada Juli 2021. Pertumbuhan cukai didorong oleh kinerja ekspor beberapa komoditas unggulan Indonesia dan cukai rokok.

"Cukai tumbuh didorong oleh pertumbuhan cukai hasil tembakau (CHT) efek limpahan pelunasan kredit pita cukai akhir tahun 2020 di awal 2021, dan efektivitas kebijakan berupa penyesuaian tarif dan pengawasan berupa operasi gempur di bidang cukai,"  ujarnya dalam konferensi pers "APBN Kita" yang disiarkan secara virtual oleh Youtube Kemenkeu, Rabu, 25 Agustus 2021.

Dia mengatakan, untuk kinerja Cukai Hasil Tembakau Juli 2021 terpengaruh implementasi PMK93/2021 yang merelaksasi pelunasan Cukai Hasil  menjadi tiga bulan.

Penerimaan negara dari CHT mencapai Rp12,7 triliun pada Juli 2021, atau naik tipis 0,7% dari Rp12,6 triliun pada tahun 2020. Namun mengalami penurunan dari bulan sebelumnya yang sebesar Rp15,7 triliun.

Sementara itu, produksi hasil tembakau (HT) sampai Juli tumbuh 2,8% atau sebesar Rp26,47 tiliiun, juga naik tipis dari tahun lalu sebesar Rp26,21 triliiun.

"Produksi HT disebabkan rendahnya produksi beberapa pabrik rokok utama di Mei-Juli tahun lalu sebagai langkah antisipasi penanganan COVID-19 yang sedang tinggi kala itu," papar Sri Mulyani.

Dia menambahkan, tarif rata-rata tertimbang tumbuh 10,4% namun lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan tarif normatif yang 12,5%. Hal itu karena pabrik rokok golongan satu dengan struktur tarif tinggi, produksinya belum maksimal.

Penerimaan BM dan BK

Sri Mulyani mengatakan penerimaan negara dari kepabeanan dan cukai mencapai Rp141,21 triliun atau sekitar 65,7% dari target APBN. Pencapaian ini tumbuh 29,5% dibandingkan dengan tahun lalu.

"Ini karena beberapa komoditas seperti kelapa sawit, tembaga, dan juga beberapa pertambangan itu memberikan kontribusi bea keluar yang cukup signifikan karena adanya perdagangan internasional yang pulih dan pertumbuhan ekonomi negara-negara lain yang tumbuh sehingga meningkatkan ekspor kita," terangnya.

Dia menerangkan, untuk Bea Masuk (BM) tumbuh 9,2%, dan Bea Keluar (BK) tumbuh 888,7%.

Bea masuk, kata dia, dipengaruhi oleh tren kinerja impor nasional yang terus meningkat, terutama pada sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan.

Sementara, bea keluar tumbuh didorong oleh peningkatan ekspor komoditi tembaga yang tumbuh 210% dan tingginya harga produk kelapa sawit.

Pertumbuhan bea keluar dari ekspor sawit melonjak 2945,64% karena tarif bea keluar yang tinggi dan juga tingginya tarif produk turunan kelapa sawit.

"Bea keluar kakao, kayu dan kulit mengalami tekanan, dampak turunnya volume ekspor kakao dan penuruna tarif bea keluar komiditas venner mulai tahun 2021," imbuh mantan Direktur Bank Dunia.*

Berita Terkait