Pendapatan Bank Permata Melonjak 23,7 Persen Jadi Rp3,8 Triliun

26 Maret 2021 23:04 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Suasana pelayanan nasabah disalah satu kantor cabang milik Bank Permata, di Jakarta. Foto; Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – PT Bank Permata Tbk (BNLI) membukukan pendapatan operasional sebelum pencadangan sebesar Rp3,8 triliun pada 2020. Angka ini meningkat 23,7% year on year (yoy)  dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Pertumbuhan ini diperoleh dari peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 14,2% dan pendapatan non-bunga sebesar 16,1%  yoy. Capaian ini diikuti dengan perbaikan rasio marjin bunga (Net Interest Margin atau NIM) menjadi 4,7%, meningkat dari 4,4% di periode yang sama pada 2019.

“Permodalan dan likuiditas kami terjaga kuat seiring dengan keberhasilan proses integrasi dengan Bangkok Bank Indonesia yang berjalan lancar. Diakhiri dengan masuknya Permata Bank ke jajaran Bank BUKU IV pada Januari 2021,” kata Direktur Utama Bank Permata Ridha D.M. Wirakusumah, dalam konferensi pers Jumat, 26 Maret 2021.

Ridha juga memaparkan, Cost to Income Ratio (CIR) tercatat sebesar 58,7%, membaik dari posisi tahun sebelumnya sebesar 62,4%. Menurutnya, rasio efisiensi tersebut didukung oleh penerapan digitalisasi dalam transaksi perbankan.

Adapun, transaksi digital mengalami pertumbuhan dua kali lipat dibandingkan 2019. Sedangkan transaksi QR Pay melalui PermataMobile X tumbuh di atas 300%.

“Digitalisasi juga terus dilakukan dalam pelayanan kantor cabang dengan semakin bertambahnya Model Branch sebagai salah satu upaya menghadirkan pengalaman perbankan yang seamless dalam pelayanan offline dan online,” tambahnya.

Total penyaluran kredit tercatat sebesar Rp118 triliun, meningkat 9,2% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.  Pertumbuhan kredit ini didukung oleh pengalihan aset BBI melalui proses integrasi sebesar Rp17,3 triliun.

Sementara rasio non-performing loan (NPL) gross perusahaan meningkat ke level 2,9% 2,8% dengan NPL net yang terjaga pada level 1,0% dibandingkan posisi Desember 2019 1,3%. 

Sepanjang tahun lalu, Bank Permata juga melaksanakan restrukturisasi dan relaksasi kredit. Sampai dengan Desember 2020, sekitar 14% dari pengajuan portofolio kredit restrukturisasi dan relaksasi telah diselesaikan.

Untuk menjaga kestabilan perusahaan, Bank Permata telah mengalokasikan biaya pencadangan penurunan kualitas aset sebesar Rp2,2 triliun. Pencadangan ini memperhitungkan potensi peningkatan kerugian kredit.

Sebab, Bank Permata merekam adanya peningkatan rasio NPL coverage menjadi 239% pada 2020, lebih tinggi dibandingkan rasio tahun sebelumnya sebesar 133%. 

Adapun rasio likuiditas Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 79% pada Desember 2020 dan rasio CASA meningkat menjadi 51,2% meningkat 54 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Total dana simpanan masyarakat tumbuh sebesar 18,4% yoy. Rinciannya, giro 25,3%, tabungan dan deposito masing-masing 13,5% dan 17,1% yoy.

Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Common Equity Tier 1 (CET-1) pada posisi Desember 2020 masing-masing sebesar 35,7% dan 26,9% meningkat dibandingkan 19,9% dan 18,7% pada periode yang sama pada 2019.

Berita Terkait