Pendapatan Adaro Energy Turun 27% Jadi Rp35,62 Triliun pada 2020

March 05, 2021, 08:41 PM UTC

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Bos Adaro Energy Garibaldi Thohir bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. / Facebook @AdaroEnergy

JAKARTA – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) membukukan pendapatan usaha sebesar US$2,53 miliar atau Rp35,63 triliun pada 2020, atau turun 27% dari tahun 2019. Hal ini disebabkan penurunan pada harga jual rata-rata (ASP) sebesar 18% dan volume penjualan 9%.

Presiden Direktur dan CEO ADRO Garibaldi “Boy” Thohir mengatakan kinerja perusahaan mencerminkan resiliensi model bisnis yang terintegrasi.

“Ini berkat fokus pada efisiensi dan keunggulan operasional di seluruh lini bisnis,” kata Garibaldi, melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, 5 Maret 2021.

ADRO berhasil menekan beban pokok penjualan selama pandemi 2020. Sepanjang tahun lalu, beban pokok penjualan ADRO turun 21,29% year-on-year (yoy) menjadi US$2,53 miliar atau Rp35,7 triliun (Jisdor Rp14.084 per dolar AS) dari US$3,46 miliar, setara Rp48,69 triliun pada tahun 2019.

Hal ini diikuti oleh penurunan beban usaha perseroan sebesar 29% menjadi US$165 juta sepanjang 2020, dibandingkan dengan US$233 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini didominasi oleh penurunan 45% pada beban penjualan dan pemasaran, serta penurunan 44% pada biaya profesional.

Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar US$2,53 miliar atau Rp35,63 triliun pada tahun 2020, atau turun 27% dari tahun 2019. Hal ini terutama diakibatkan karena penurunan 18% pada harga jual rata-rata (ASP) dan penurunan 9% pada volume penjualan.

Volume Produksi Turun

ADRO mencatatkan penurunan 6% pada volume produksi menjadi 54,53 juta ton, atau sedikit lebih tinggi daripada panduan tahun 2020 yang telah direvisi menjadi 52 juta ton – 54 juta ton. Kondisi makro dan industri yang sulit akibat pandemi COVID-19 disinyalir menjadi penyebab tekanan besar pada permintaan batu bara.

Walaupun harus menghadapi banyak tantangan selama pandemi, kata dia, pihaknya mampu memenuhi panduan produksi batu bara dan EBITDA operasional yang telah direvisi. Ia optimistis, pemulihan ekonomi global akan membawa dampak positif terhadap industri.

Perseroan mencatat pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) operasional sebesar US$883 juta atau lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditargetkan perseroan yakni US$600 juta – US$800 juta.

“Kami tetap berfokus untuk meningkatkan keunggulan operasional, pengendalian biaya, dan efisiensi, serta melanjutkan eksekusi terhadap strategi demi kelangsungan bisnis,” ujarnya.

Selain itu, belanja modal bersih ADRO selama tahun 2020 mencapai US$169 juta atau sedikit di bawah panduan belanja modal alias capital expenditure (capex) yang telah direvisi menjadi US$200 – US$300 juta. Perseroan tercatat menghasilkan arus kas bebas sebesar US$630 juta pada tahun 2020.

Total aset turun 12% menjadi US$6,38 miliar, aset lancar turun 18% menjadi US$1,73 miliar, terutama karena penurunan kas dan piutang usaha dari pihak ketiga.

Aset non lancar turun 9% menjadi US$4,65 miliar, terutama karena penurunan investasi pada perusahaan patungan, penurunan properti pertambangan dan penurunan aset tetap.

Pada tahun ini, perusahaan milik Sandiaga Salahuddin Uno tersebut menargetkan total produksi sebesar 52 juta ton – 54 juta ton batu bara. Adapun target nisbah kupas konsolidasi 4,8 kali.

Kemudian, ADRO membidik EBITDA operasional senilai US$750 juta – US$900 juta. Perseroan juga berencana menyiapkan belanja modal US$200 juta – US300 juta.