Tertinggi sejak 16 Tahun, Pertumbuhan Ekonomi 7,07 Persen Ditopang Faktor Ini

06 Agustus 2021 20:35 WIB

Penulis: Fachrizal

Editor: Laila Ramdhini

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Dok. Kemenko Perekonomian)

Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 naik sebesar 7,07% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi dalam 16 tahun terakhir. Hal ini sekaligus mencatatkan rekor pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak Krisis Subprime Mortgage pada 2007-2009.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pertumbuhan ekonomi yang meningkat pesat terjadi karena ditopang oleh kuatnya permintaan (demand) maupun penawaran (supply). 

“Pertumbuhan ekonomi yang terjadi tersebut ditopang oleh kuatnya pertumbuhan baik dari sisi demand maupun supply,” kata Airlangga Hartarto, dalam Konferensi Pers Virtual tentang Pertumbuhan Ekonomi kuartal II-2021, Kamis, 5 Agustus 2021.

Airlangga menjelaskan, dari sisi demand, pemerintah lewat Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) telah mendorong konsumsi pemerintah hingga tumbuh sebesar 8,06% (yoy). Sementara, konsumsi rumah tangga naik 5,93% (yoy) dan konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) juga tumbuh sebesar 4,12% (yoy). 

Pembentukan Modal Tetap Bruto juga tumbuh tinggi sebesar 7,54% (yoy) seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian domestik yang mendorong kapasitas produksi dunia usaha. Membaiknya perekonomian global juga membuat ekspor tumbuh sangat tinggi sebesar 31,78% (yoy) disusul dengan impor yang tumbuh 31,22% (yoy).

Sementara itu, Airlangga yang juga Ketua KPC-PEN menyatakan, dari sisi supply seluruh sektor lapangan usaha mengalami perbaikan. Sektor industri pengolahan sebagai kontributor terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh positif sebesar 6,58% (yoy). Sektor utama lainnya juga tumbuh signifikan, antara lain Sektor Transportasi dan Pergudangan yang tumbuh sebesar 25,10% (yoy), dan Sektor Akomodasi dan Makanan Minuman yang tumbuh sebesar 21,58% (yoy).

“Beberapa sektor yang mendukung aktivitas di tengah pandemi COVID-19 juga melanjutkan penguatan pertumbuhan, seperti sektor informasi dan komunikasi serta jasa kesehatan. Kami juga melihat, sektor pertanian masih konsisten tumbuh selama pandemi dan berperan penting terhadap ketahanan pangan Indonesia,” ungkap Airlangga.

Ekonomi Daerah

Secara spasial, seluruh wilayah di Indonesia telah mengalami perbaikan. Pulau Jawa sebagai kontributor perekonomian nasional mampu tumbuh tinggi diikuti Kalimantan dan Sumatra, serta Bali dan Nusa Tenggara. 

Lebih lanjut, Pulau Sulawesi serta Maluku dan Papua juga tumbuh tinggi beriringan dengan kenaikan nilai ekspor yang terjadi, terutama karena tingginya permintaan produk-produk komoditas unggulan di luar negeri.

“Pemulihan ekonomi global yang terjadi sepanjang semester I-2021 juga mendorong perbaikan ekonomi domestik serta menopang ketahanan sektor eksternal Indonesia. Tren pemulihan ini diproyeksikan terus berlanjut hingga akhir 2021,” jelas Menko Airlangga.

Dukungan ekonomi global ini berpotensi melanjutkan surplus neraca perdagangan yang telah terjadi selama 14 bulan berturut-turut dan menambah pemasukan devisa. Hal ini juga berpotensi mendorong kinerja ekspor komoditas unggulan Indonesia, seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan nikel. 

Transaksi berjalan dan utang luar negeri yang terkendali dengan baik turut berkontribusi positif terhadap ketahanan sektor eksternal. Kinerja yang baik dari sektor eksternal tersebut diharapkan mampu menciptakan multiplier effect yang besar bagi perekonomian.

Berita Terkait