Peminat Madu Kelulut Kubu Raya Pontianak Kian Ramai, Termasuk Ekspor

January 11, 2021, 04:05 AM UTC

Penulis: Sukirno

Ilustrasi madu kelulut dari Kalimantan Barat / Facebook @pesonakalbarhijau

PONTIANAK – Pelan tapi pasti, produksi madu kelulut yang dikembangkan dengan skema perhutanan sosial dari Kubu Raya kian diminati penyuka madu. Bahkan, permintaan semakin meningkat selama pandemi COVID-19, pada 2020 lalu.

Direktur Pesona Hijau Kalimantan Barat (Kalbar), Dede Purwansyah mengutarakan permintaan tinggi justru datang dari Malaysia sejak COVID-19 muncul yang memesan sebanyak 300.000 Kilogram (Kg) madu dari Desa Teluk Nibung, Kubu Raya tersebut.

“Kami sudah kirim ke luar negeri, dari Malaysia itu sebanyak 300.000 Kg selama COVID-19. Ke Surabaya kirim 100.000 Kg, permintaan dari Pontianak sendiri ada 190.000 Kg. Sekarang permintaan bisa kami penuhi, yang mau 1 ton atau 100 Kg tersedia,” kata Dede kepada TrenAsia.com, Sabtu 9 Januari 2021.

Pesona Hijau Kalbar adalah lembaga sosial yang mendampingi pengembangan skema perhutanan sosial bagi para petani madu di Padang Tikar, Kabupaten Kubu Raya sejak 2016 lalu. Lembaga tersebut mendapatkan dukungan dari Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (YIDH) Indonesia atau The Sustainable Trade Initiative dan Pemerintah Provinsi Kalbar untuk membantu bisnis madu kelulut Desa Teluk Nibung.

Dede mengatakan pihaknya senang karena upaya mengajak petani Teluk Nibung untuk memulai budi daya madu kelulut membuahkan hasil. Para petani, kata dia, kini mempunyai alternatif pendapatan mata pencaharian dari produksi madu kelulut. Total saat ini, pengembangan madu kelulut dengan hutan Desa Teluk Nibung seluas 3.209 Hektare (Ha).

Menurutnya, petani selama ini mengandalkan beragam komoditas palawija seperti kelapa dan padi sebagai pendapatan mereka. Namun, komoditas-komoditas itu belum mampu menambah pendapatan mereka lebih banyak karena permintaan hanya seputar Kubu Raya dan Pontianak saja.

Pengembangan budi daya madu kelulut, kata dia, sebagai cara pula untuk mencegah warga merusak pohon bakau karena di desa lain batang dari pohon tersebut ditebang untuk dijadikan arang.

Oleh karena itu, papar Dede, semenjak Pesona Hijau Kalbar mencoba pengembangan produksi budi daya madu kelulut pertama kali 2016 kini produksi mereka terus bertambah seiring permintaan dari luar Kalbar.

“Sebelumnya, Kaltim dan Kalteng rutin minta dikirim 2-3 ton per bulan sebelum pandemi. Tetapi, sekarang petani di sana minta dilatih untuk mengembangkan madu kelulut juga,” kata Dede.

Salah satu petani madu kelulut, Gio Sumantri mengatakan bersyukur pendapatan bertambah semenjak berhasil mengembangkan madu kelulut. Sekarang, kata dia, madu kelulut sebagai andalan pendapatannya.

“Awalnya saya bangun 9 stub (sangkar lebah kelulut), sekarang ada 1.000 lebih stub. Dari madu kelulut, saya bisa bangun rumah ini (rumah bertingkat),” ucapnya. (SKO)