Pemberian Booster untuk Masyarakat Umum, Pakar: Belum Ada Urgensi

06 September 2021 14:44 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

Ilustrasi Vaksinasi pelajar di UGM Jogjakarta (UGM Jogjakarta)

YOGYAKARTA - Beberapa waktu terakhir ramai dibahas pemberian vaksin booster atau dosis ketiga bagi masyarakat umum. Lalu, seberapa perlu vaksin booster COVID-19 untuk diberikan kepada masyarakat umum?

Pakar virologi FKKMK UGM, dr. Mohamad Saifudin Hakim, MSc., PhD., mengatakan dalam kondisi saat ini Indonesia belum perlu memberikan vaksin booster bagi masyarakat umum. Namun, vaksin dosis ketiga bisa diberikan secara terbatas kepada tenaga kesehatan (nakes).

“Kalau untuk masyarakat umum, belum ada urgensi untuk pemberian vaksin dosis ketiga. Berbeda dengan nakes yang memang diperlukan vaksin booster karena dari sisi jumlah yang sedikit dan mereka adalah pejuang yang berada di garda depan penanganan COVID-19 sehingga berisiko besar terpapar COVID-19 ,” jelasnya.

Menurutnya, yang terpenting saat ini justru meningkatkan angka cakupan vaksinasi nasional. Sebab, hingga kini masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan vaksin. 

“Saat ini masyarakat umum yang sudah mendapatkan vaksin hingga dosis kedua masih sedikit, baru sekitar 18%. Jadi, sebaiknya mengejar cakupan vaksin dulu bagi mereka yang belum divaksin, terutama kelompok lansia yang berisiko tinggi,” paparnya. 

Selain itu, pemberian vaksin booster juga belum masuk dalam rekomendasi WHO. Bahkan, belum lama ini WHO meminta agar negara-negara mempertimbangkan kembali urgensi pemberian vaksin booster COVID-19. 

Lebih lanjut, Hakim menjelaskan bahwa dari sisi imunologi, pemberian vaksin booster memang bermanfaat untuk meningkatkan imunitas tubuh yang diperoleh dari dua dosis vaksin sebelumnya. Vaksin booster yang diberikan akan melatih kembali sel-sel memori penghasil antibodi tubuh yang dihasilkan dari dua dosis vaksin sebelumnya. Daya ikat antibodi juga menjadi lebih baik terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. 

“Sejumlah studi awal menunjukkan bahwa dengan pemberian vaksin booster atau dosis ketiga, baik dengan merk (platform) vaksin yang sama atau berbeda, mampu memperkuat imunitas yang diperoleh dari dua dosis vaksin sebelumnya,” urainya.

Imunitas Belum Jelas

Kendati begitu, ia menyampaikan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pemberian vaksin booster. Pertama, terkait penurunan level imunitas. Hingga kini belum jelas bagaimana imunitas setelah pemberian vaksin sebelumnya bertahan, apakah terjadi penurunan atau tidak. Jika benar terjadi penurunan maka pemberian booster bisa dipertimbangkan. 

Kedua, efektivitas vaksin. Data yang ada saat ini belum cukup untuk memastikan apakah terdapat penurunan efektivitas vaksin untuk mencegah gejala berat Covid-19 pada sekian bulan setelah dosis kedua dan angka kejadian Covid-19 pada mereka yang sudah mendapatkan vaksinasi dua dosis. 

"Lalu, bagaimana efektivitas vaksin terhadap varian corona baru yang menjadi perhatian global (VoC)? Jika ada data penurunan efektivitas vaksin dua dosis, pemberian booster bisa dipertimbangkan,"tuturnya.

Ketiga, pasokan vaksin secara global dan nasional. Kebijakan pemberian vaksin booster perlu mempertimbangkan ketersediaan vaksin secara global maupun nasional di suatu negara. 

“Kalau negara maju mengejar pemberian vaksin dosis 3, sementara negara lain saja masih belum mendapatkan dosis 1, ini bisa memperparah prinsip kesetaraan nasional dan global dalam akses terhadap vaksin selama pandemi,” tegasnya.

Target Vaksin

Sebelumnya, Juru Bicara (Jubir) Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan pemerintah berusaha memenuhi target vaksinasi sebanyak 141,5 juta sasaran sehingga pada September akan melakukan vaksinasi sebanyak 2,1 juta per harinya.

Siti Nadia Tarmizi menjelaskan saat ini sudah ada 95,6 juta penduduk yang telah menerima vaksin dengan rincian sekitar 61,5 juta penerima vakain pada tahap pertama dan 34,8 juta penerima vaksin pada tahap kedua. Sedangkan vaksinasi pada tahap ketiga atau booster akan diberikan kepada 600 ribu tenaga kesehatan (nakes).

"Bagi penerima booster selain nakes masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. vaksin juga sudah diberikan kepada 18 ribu ibu hamil dan 155 ribu kaum disabilitas. Kami meminta masyarakat tidak pilih-pilih vaksin apakah itu Sinovac, Synophram, Moderna, Pfizer atau Aztra Zaneca. Semua vaksin telah melalui pemeriksaan WHO dan lolos tahap uji pemeriksaan lebih lanjut, kata Siti Nadia Tarmizi disela diskusi BBC Media Action, Satgas COVID-19, FJPP, dan Dewan Pers yang bertajuk Peran Pers Dalam Perubahan Perilaku Masyarakat di Era Vaksinasi Covid-19” Senin (31/8).

Siti melanjutkan vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia masih efektif melawan varian baru dari virus corona.
Diketahui, saat ini terdapat varian baru Covid-19 yang masuk ke Indonesia. Diantaranya, varian Delta atau varian B.1.617.2 dan Alpha atau varian B.1.1.7.
"Masih sangat efektif dan WHO masih merekomendasikan untuk percepat vaksinasi," jelasnya. (ties)


 

Tulisan ini telah tayang di jogjaaja.com oleh Ties pada 06 Sep 2021 

Berita Terkait