Pembelajaran Sosial untuk Keberhasilan PPKM Darurat

03 Juli 2021 15:35 WIB

Penulis: Laila Ramdhini

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat menjadi pilihan pemerintah setelah melihat laju penyebaran COVID-19 khususnya di Jawa dan Bali semakin tidak bisa dikendalikan. Melalui kebijakan “revisi” ini diharapkan penyebaran virus berhasil dihambat secara signifikan.

Sekalipun keberhasilan progam ini selalu menjadi harapan bersama, kita tidak boleh lengah. Pengalaman dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maupun PPKM Mikro menasehati kita, setiap kebijakan selalu saja meninggalkan kelemahan.

Beberapa di antaranya, aktivitas berlalu lalang warga yang tidak dikendalikan, pengendara sepeda motor tidak bermasker, warga keluar masuk kota tanpa melengkapi diri dengan dokumen yang disyaratkan, dan pengelola posko yang belum menjalankan tugas dengan baik.

Padahal sosialisasi sudah dilakukan mulai dari level rukun tetangga (RT) sampai nasional. Melalui media mainstream dan media sosial, warga mengetahui perilaku yang diperbolehkan, dilarang, dan sanksi yang akan diterima untuk pelanggaran.

Semestinya, surplus informasi ini membuat masyarakat melek. Sayang, semuanya belum efektif menyadarkan warga untuk menaati protokol kesehatan.

Berangkat dari hal itu, sejatinya pemberian informasi dan sosialisasi saja belum cukup. Perlu pembelajaran sosial (social learning) dalam setiap kebijakan kependudukan, termasuk pada PPKM Darurat. Persoalan nyata di lapangan, level pengetahuan dan kesadaran mitigasi bencana non alam rata-rata warga dan penynitas bencana bisa dikatakan lemah.

Untuk itu, semua aktor didorong berproses dan terlibat pada pembelajaran kolektif. Pembelajaran sosial tidak sama dengan pembelajaran formal di bangku sekolah, tetapi ada kesamaan substansi yaitu transfer nilai, diseminasi informasi, pengetahuan dan perubahan sikap, dan perilaku memperkuat pelaksanaan protokol kesehatan.

Pembelajaran Sosial

Psikolog Bandura (1977) menyatakan pembelajaran sosial menunjuk pada proses pembelajaran individual yang dipicu melalui konteks sosial seperti orang lain, situasi, dan lembaga sosial.

Goldstein (1981) melihat tujuan pembelajaran sosial untuk personal dan adaptasi sosial dengan memfokuskan pada aspek kognitif dan nilai. Konteks sosial dibatasi pada situasi hubungan interpersonal.

Efek pembelajaran didasarkan pada observasi dan imitasi perilaku manusia yang diamati (Schusler, Decker & Pfefer, 2003). Dengan kalimat lain, pembelajar ini menargetkan perubahan pada aspek pengetahuan (kognitif), kecakapan, dan tingkah laku (Janawi, 2013).

Pembelajaran sosial bisa dipraktikkan mulai dari lingkungan terdekat dan kemudian diteruskan ke kelompok lebih luas. Materi sosialisasi yakni kewaspadaan, kepedulian, dan kesiapsiagaan sosial. Misalnya, warga memahami langkah-langkah untuk mengarahkan pada isolasi mandiri atau ke rumah sakit. Pengetahuan semacam ini dibagikan pada semua orang.

Praktik paling sederhana lain, saat kita bertemu dengan aneka penjual makanan yang tidak memakai masker, kita mengingatkan. Jika mereka belum memakai masker tidak boleh dijustifikasi sebagai ‘ndablek‘. Jangan-jangan mereka tidak sanggup membeli masker. Atau memang masker membuat tidak nyaman.

Saat menjumpai tetangga terpapar COVID-19, warga mengetahui jalur “evakuasi” untuk sekedar isoman atau harus dirujuk ke rumah sakit. Jika pilihan adalah isoman, warga mengetahui cara pemenuhan logistik.

Kemudian, masuk ke level kelompok sosial. Standar protokol COVID-19 selalu diterapkan di tempat bekerja, kelompok sebaya, maupun asosiasi sukarela. Publikasi kegiatan dan kampanye hidup sehat tentang bahaya corona dan penanggulangan tidak lelah digaungkan.

Keberhasilan dan efektivitas pembelajaran sosial ditentukan oleh belajar dan berpikir aktor pada dalam kelembagaan dengan menjunjung perbedaan perspektif aktor-aktor, namun selalu didiskusikan dengan berakhir pada komitmen bekerja bersama. Di sini, kesediaan semua pihak menjadi agen pembelajar menjadi mindset bersama.

Langkah-Langkah Penting

Tantangan pembelajaran sosial pada komunitas yaitu ketidaksamaan persepsi ancaman terhadap wabah. Tidak sedikit common sense masyarakat bertentangan dengan kebijakan.

Diferensiasi sosial membagi masyarakat sebagai kelompok tidak paham, tidak sadar, dan skeptis. Belum lagi jika pengetahuan berbenturan dengan like dan dislike yang cenderung politis, maka pengetahuan semakin problematis.

Untuk itu, pendekatan berbasis masyarakat (community based approach) menuntuk kreativitas. Struktur birokrasi dimanfaatkan untuk pembelajaran kolektif. Partisipasi lembaga-lembaga yang berelasi vertikal maupun horisontal diundang.

Pendekatan ini harus meyakinkan bahwa penanganan COVID-19 bukan proyek dan pemerintah akan selalu berada di garda terdepan bersama masyarakat.

Jalur komando berhasil melibatkan institusi sosial untuk menyebarkan informasi, sosialisasi dan edukasi pada masyarakat mulai level akar rumput (grassroots). Penulis menyadari perlu pembiasan menerapkan pembelajaran sosial.

Krisis pandemi hari ini seharusnya mendorong kita menemukan terobosan pro aktif dan kreatif. Yakinlah, setiap langkah yang diulang secara teliti, pasti akan membuahkan hasil manis. (LRD)

Penulis: Rachmad K Dwi Susilo Ph.D

(Pengajar Mata Kuliah Sosiologi Kebencanaan Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang)

Berita Terkait