Pembangkit Listrik Panas Bumi Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca 14,9 Juta Ton CO2

05 Agustus 2021 16:47 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Amirudin Zuhri

PLTP Mataloko

JAKARTA – Data Carbon Neutral Calculator menunjukkan kehadiran pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) berkapasitas 2.130,6 megawatt (MW) di Indonesia telah mengurangi gas rumah kaca hingga 14,9 juta ton karbondioksida (CO2).

“PGE yang sudah mengoperasikan pembangkit listrik geothermal sejak hampir lima dekade lalu sudah turut mengurangi berjuta-juta ton gas CO2,”  kata Manager Government & Public Relation Pertamina Geothermal Energy (PGE) Sentot Yulianugroho dalam siaran pers, dikutip Kamis, 5 Agustus 2021.

Saat ini saja, dengan kapasitas 672 MW, PGE sebagai bagian dari Sub Holding Pertamina PNRE telah berpartisipasi mengurangi 3,6 juta ton CO2 per tahun. Menurut Sentot, partisipasi penguranga CO2 ini pun selaras dengan usaha penyelamatan lingkungan global.

Hingga saat ini, PGE setidaknya mengelola tujuh proyek dalam kerangka Clean Development Mechanism (CDM), enam di antaranya terdaftar di UNFCC (United Nations Framework Convention on Climate Change).

Dunia memang berkomitmen untuk mengurangi gas rumah kaca, terutama CO2, yang sangat berpengaruh terhadap perubahan komposisi atmosfer dan perubahan iklim global.

Presiden Joko Widodo dalam acara “Working Lunch on Development and Climate Change” di KTT G20, Antalya, Turki, 15 Juni 2018, menyatakan Indonesia siap melakukan aksi nyata dalam pengurangan emisi gas rumah kaca.

Pengurangan emisi tersebut merupakan konsekuensi dari penandatanganan Protokol Kyoto oleh 188 negara pada 11 Desember 1997, dan Indonesia termasuk di dalamnya.

Dampak positif ke devisa negara

Terkait dengan optimasi sumber daya domestik, keberadaan PGE dari sisi ekonomi makro telah berkontribusi terhadap penghematan devisa. Sejak 1997, Indonesia harus mengimpor minyak karena produksi dalam negeri tak sanggup memenuhi konsumsi yang terus meningkat.

"Beroperasinya PLTP secara tidak langsung berkontribusi terhadap penghematan cadangan devisa migas," ungkap Sentot.

Dia menjabarkan kapasitas nasional PLTP Indonesia sebesar 2.130,6 MW setara dengan 100,78 Barrel Oil Equivalent Per Day (BOEPD) yang jika digenapkan satu tahun menjadi 36,78 juta Barrel Oil Equivalent.

Jika diasumsikan harga satu barel minyak US$50, devisa yang bisa dihemat selama setahun dari keberadaan PLTP sebesar US$1,84 miliar.

“Dengan perhitungan yang sama, PGE dengan 672 MW nya memberikan kontribusi penghematan devisa US$ 580 juta per tahun,” ujar Sentot.

Menurutnya, Indonesia masih relatif muda dalam pengembangan geothermal dibandingkan negara seperti Amerika, Italia, Selandia Baru, Jepang, Islandia. Namun, pengembangan sumber energi yang ramah lingkungan itu masih sangat terbuka lebar.

GE pun berkomitmen meningkatkan inovasi bisnis yang bermanfaat tidak hanya untuk kinerja perusahaan, tapi juga keberlangsungan lingkungan untuk masa depan. “Upaya ini menjadi misi PGE untuk menjadikan panas bumi sebagai beyond energy,” kata Sentot.

 

Berita Terkait