Peluang RI Ekspor ke Jepang Kembali Terbuka

20 Juni 2020 15:23 WIB

Penulis: wahyudatun nisa

Suasana bongkar muat barang di Terminal Petikemas Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyebutkan peluang pasar ekspor ke Jepang kini kembali terbuka lebar seiring mulai pulihnya negeri matahari terbit tersebut dari pandemi COVID-19.

“Pemerintah Jepang menetapkan kebijakan untuk membangun rantai pasok yang lebih berkelanjutan, terutama dengan semakin pulihnya Jepang dari COVID-19. Hal tersebut menjadi peluang yang harus dimanfaatkan Indonesia untuk mengisi kekosongan dan meningkatkan laju ekspor ke pasar Jepang,” kata Agus, Jumat, 19 Juni 2020.

Agus menuturkan Atase Perdagangan Tokyo dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka berkerja sama untuk menggelar seminar web (webinar) yang bertajuk bertajuk “Market Access: Preliminary Session” pada Kamis, 18 Juni lalu.

Menurutnya, kegiatan tersebut bertujuan memberikan informasi pasar dan pelatihan kepada pelaku ekspor, khususnya usaha kecil dan menengah (UKM). Sehingga pelaku UKM dapat memanfaatkan peluang ekspor di pasar Jepang ini dengan maksimal.

Dalam kegiatan ini akan diselenggarakan sesi lokakarya (workshop) yang akan memberikan informasi mengenai lima produk ekspor utama ke Jepang, yaitu makanan dan minuman, energi terbarukan, agrikultur dan hortikultura, mold, die and automotive parts, serta furnitur dan peralatan rumah.

Pada akhir 2020 mendatang, kata Agus, Atase Perdagangan Tokyo dan ITPC Osaka juga berencana melakukan kerja sama dagang antara pelaku usaha Indonesia dan importir Jepang, khususnya untuk kelima produk utama tersebut.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) Kemendag Kasan menuturkan untuk mendorong kinerja ekspor, Kementerian Perdagangan telah melakukan berbagai kebijakan antara lain memudahkan proses perizinan dan memberikan bantuan fasilitasi kepada para eksportir yang terdampak pandemi ini.

Kasan mengatakan pemerintah Jepang telah mencabut status keadaan darurat sehingga kegiatan sosial dan ekonomi Jepang pulih kembali secara berangsur dengan istilah new lifestyle atau gaya hidup baru.

Dikatakannya, pandemi ini telah mendorong pemerintah Jepang melakukan transformasi perekonomian, sebab selama ini negeri sakura tersebut terus bergantung pada China sebagai basis manufakturnya. Oleh karena itu, Jepang mulai memikirkan rantai pasok global baru dari negara lain.

“Kami berharap pelaku UKM tetap optimistis dan menjadikan krisis ini sebagai momentum yang baik untuk akselerasi sehingga dapat memanfaatkan peluang ekspor ke pasar Jepang secara optimal,” jelas Kasan.

Sekilas Mengenai Kinerja Perdagangan Indonesia

Neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari-Mei 2020 masih mencatat surplus sebesar US$4,31 miliar. Sumbangan terbesar datang dari sektor nonmigas senilai US$7,67 miliar. Pada periode tersebut, ekspor Indonesia mencapai US$64,46 miliar dengan nilai ekspor nonmigas sebesar US$60,97 miliar.

Lima negara tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia pada periode tersebut yaitu India, Singapura, Jepang, Amerika Serikat, dan China.

Di sisi lain, Pada periode Januari-April 2020 total perdagangan antara Indonesia dan Jepang tercatat sebesar US$9,66 miliar. Angka ini menurun 9,95% dari US$10,7 miliar. Indonesia mengalami defisit sebesar US$8,13 juta.

Adapun nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Jepang pada periode yang sama tercatat sebesar US$4,47 miliar. Produk ekspor utamanya meliputi batubara, potongan logam mulia, konduktor listrik, nikel, dan karet. (SKO)

Berita Terkait