Pelaku Pasar Respons Positif Pertumbuhan Ekonomi, IHSG Meroket 3,04 Persen

JAKARTA – Meski resmi masuk jurang resesi akibat ekonomi Indonesia negatif 3,49% pada kuartal III-2020, namun pertumbuhan secara kuartalan positif sebesar 5,05%, membuat pelaku pasar mengapresiasi positif capaian itu.

Pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) terkait ekonomi nasional yang terkontraksi 3,49% rupanya memengaruhi kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona hijau. Terbukti pada perdagangan Kamis, 5 November 2020, IHSG ditutup melesat 3,04% atau tumbuh 155,12 basis poin ke posisi 5.260,32.

Saham-saham berkapitalisasi pasar besar di Indeks LQ45 menjadi penopang kinerja IHSG dengan kenaikan 4,07%. Sementara dari sisi sektoral, infrastruktur dan finansial menjadi pengungkit dengan kenaikan masing-masing 4,67% dan 4,31%.

Sepanjang perdagangan, investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan transaksi senilai Rp9,9 triliun dengan volume saham 14,63 miliar. Sebanyak 321 saham berhasil menguat, 247 bergerak statis, dan hanya 144 seham yang bergerak turun.

Kinerja memukau IHSG ini diperkuat dengan pergerakan investor asing yang turut mencatatkan aksi beli bersih (net foreign buy/NFB) senilai Rp711,04 miliar. Dengan demikian, nilai jual bersih asing (net foreign sell/NFS) sejak awal tahun pun susut menjadi Rp47,36 triliun.

Head of Research Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi menjelaskan, kinerja mengesankan IHSG ini tidak lepas dari keyakinan investor terhadap proyeksi ekonomi Indonesia setelah disahkannya Undang-undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) alias omnibus law. Di samping itu, kinerja positif perbankan dengan non-performing loan (NPL) yang tidak lebih dari 5% juga turut mendorong penguatan.

“Rentetan hal positif tersebut mampu menggeser stigma negatif dari indikasi resesi Indonesia yang mencatatkan pertumbuhan PDB yang negatif selama dua kuartal berturut-turut,” terang Lanjar dalam riset harian yang diterima TrenAsia.com, Kamis, 6 November 2020.

Asia dan Eropa Moncer

Selain IHSG, mayoritas bursa saham di kawasan Asia juga rupanya turut mengalami penguatan. Indeks Nikkei Jepang menguat 1,73%, TOPIX Tokyo tumbuh 1,39%, Hangseng Hong Kong melesat 3,01%, dan CSI300 Shanghai Shenzen China naik 1,48%.

Pertumbuhan saham-saham di Asia ini melesat ke level tertingginya sejak Februari 2018. Penguatan dipimpin oleh perusahaan teknologi dan kesehatan.

“Karena investor mencari sektor defensif dan meninggalkan spekulasi pada paket stimulus ekonomi lanjutan setelah Demokrat gagal menyapu bersih kongres dan Gedung Putih,” ungkap Lanjar.

Tidak hanya di Asia, kinerja bursa saham juga turut menanjak di kawasan Eropa. Secara rata-rata bursa saham Eropa pada hari ini mampu menunjukkan penguatan hingga 0,5%.

Indeks Euro Stoxx mampu tumbuh 0,97%, FTSE naik 0,55%, dan DAX meningkat 0,89%. Sedangkan di Amerika Serikat (AS), Dow Jones Index Future (DJIF) mampu melesat 1,13%.

Menurut Lanjar, penguatan ini terjadi lantaran Bank of England telah memantapkan komitmennya untuk memberi stimulus tambahan usai Eropa diterpa gelombang kedua COVID-19. Komitmen itu ditunjukkan Bank of England dengan meningkatkan program pembelian obligasi menjadi 150 miliar pound atau US$195 miliar.

Di luar itu, harga minyak mentah West Texas Intermadiate (WTI) yang turun 1,8% juga turut menjadi sentimen positif bagi pergerakan bursa.

“Fokus selanjutnya investor masih akan menanti hasil akhir perhitungan pemilihan presiden AS dan hasil pidato The Fed sekaligus kebijakan suku bunga mengiringi data klaim pengangguran di AS,” pungkas dia. (SKO)

Tags:
bursa amerikabursa asiaBursa Efek Indonesiabursa eropaHeadlineihsgIhsg ditutup menguatindeks harga saham gabunganlanjar nafiPertumbuhan Ekonomipertumbuhan ekonomi kuartal III 2020reliance sekuritasresesi ekonomiSahamUndang-undang Cipta KerjaUU Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja
Fajar Yusuf Rasdianto

Fajar Yusuf Rasdianto

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: