Patuhi Prokes, Paguyuban Kasultanan Pajang Tetap Gelar Ritual Jelang Satu Suro Meski PPKM

10 Agustus 2021 11:45 WIB

Penulis: Rizky C. Septania

Editor: Rizky C. Septania

Ritual ganti Songsong di Pesanggrahan Sultan Hadiwijaya Pajang oleh Paguyuban Kesultanan Hadiwijaya (Soloaja.co)

SUKOHARJO  - Paguyuban Kasultanan Pajang tetap menggelar ritual Peringatan malam Satu Suro atau Satu Muharram 1443 Hijriah saat PPKM sedang berlangsung. Meski begitu, ritual diadakan dengan sederhana, sedikit orang dan tetap patuhi prokes.

Ritual ditandai dengan selametan atau doa bersama dan penggantian Songsong di Pesanggrahan Sultan Hadiwijaya Pajang yang berada di Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Senin 9 Agustus 2021, sore.

Dari pantauan di lokasi, sebelum diadakan penggantian Songsong dan doa bersama, belasan Paguyuban Kasultanan Pajang melakukan kirab sederhana dari gapura depan menuju Pesanggrahan yang jaraknya hanya belasan meter. Kirab dipimpin oleh Raden Bambang Sridaya, salah satu Trah Eyang Sultan Hadiwijaya.

“Meski ditengah Pandemi Covid-19, namun sebagai pelestari budaya sehingga tetap berkomitmen untuk menjaga tradisi. Sehingga acara dilakukan secara terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Doa bersama tersebut sekaligus sebagai tanda peresmian renovasi pesanggrahan,” Kata Raden Bambang Sridaya.

Selanjutnya dilakukan penyerahan Songsong atau payung kebesaran. Satu persatu peserta masuk kedalam lalu dilanjutkan dengan penggantian Songsong.

Kemudian acara diakhiri dengan doa bersama dan meminta kepada sang pencipta agar Pandemi segera usai.

Padahal biasa sebelum ada pandemi, sejumlah rangkaian acara digelar, diantaranya pentas wayang kulit semalam suntuk, kirab keliling kampung, dan tradisi budaya lainnya.

"Sore ini acara diawali kirab dari pintu masuk, menuju panggung doa bersama, dan potong pita sebagai simbol telah selesainya renovasi pesanggrahan atau Situs Joko Tingkir," katanya, Senin (9/8).

Politisi Gerindra ini menambahkan, renovasi situs ini sudah berlangsung selama 1,5 tahun yang lalu. Proses renovasi sendiri menggunakan kantong pribadinya, dalam arti tidak ada bantuan dari pemerintah.

"Karena saya termasuk salah satu trah Eyang Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir, sekaligus pelestari situs, saya merenovasi semua ini dengan biaya saya sendiri. Dalam arti, tidak ada bantuan dari pemerintah," terangnya.

Dia menegaskan, perayaan Satu Suro yang diadakan oleh Paguyuban Kasultanan Hadiwijaya ini tidak ada hubungannya dengan Yayasan Kasultanan Karaton Pajang yang diketuai oleh Suradi. Pasalnya selama ini, di tengah masyarakat ada dua versi pengelola situs keraton Pajang. Satunya dikelola Suradi dengan yayasannya dan satu lagi dikelola paguyuban yang didukung oleh pemerintahan desa.

"Situs Joko Tingkir yang berada di Desa Makamhaji ini, tidak ada hubungannya dengan yayasan yang dikelola oleh Pak Suradi dan kawan-kawan, meskipun lokasinya berdampingan," tegasnya.

Tulisan ini telah tayang di soloaja.co oleh Kusumawati pada 09 Aug 2021 

Berita Terkait