Pasokan Chip Global Makin Langka, Indonesia Genjot Investasi Industri Semikonduktor

01 September 2021 10:35 WIB

Penulis: Laila Ramdhini

Editor: Laila Ramdhini

Ilustrasi chip kirin by Huawei

JAKARTA - Perang dagang Amerika Serikat dan China hingga terjadinya pandemi COVID-19 memberikan dampak besar pada rantai pasokan chip dunia.

Padahal, komponen ini sangat penting untuk memenuhi berbagai kebutuhan produksi seperti otomotif, barang elektronik, dan perangkat telekomunikasi. Kelangkaan chip sebagai bahan baku produksi telah menyebabkan pasokan barang seperti alat elektronik (laptop dan telepon seluler) berkurang sehingga harganya meningkat.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita  mengungkapkan, untuk itu pemerintah mendorong Indonesia sebagai negara tujuan investasi untuk membangun industri semikonduktor.

"“Tantangan itu memberikan peluang baru bagi industri dan start up investor Indonesia untuk melakukan kontrak manufacturing chip yang sedang tumbuh di berbagai negara, terutama Amerika Serikat, Jepang, China, Taiwan, Korea Selatan dan sejumlah negara di Eropa,” ujar Agus, dalam keterangan resmi, Rabu, 1 September 2021.

Sebagai gambaran, start up industri chip, terlebih chip untuk artificial intelligence seperti Alphabhet dengan Google, Nvidia, Graphcore, Thinci, Grog dan puluhan start up industri chip, termasuk industri chip global saat ini dapat dilakukan kerja sama dalam memperkuat supply chain chip di Indonesia.

Agus menambahkan, chip terus mengalami perkembangan, dari chip mikrokontroler hingga artificial intelligence chip yang fungsinya semakin kompleks sejalan dengan perkembangan industri 4.0.

“Peran strategis industri chip ini menjadi semakin strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional maupun global,” imbuhnya.

Substitusi Impor

Lebih lanjut, Agus mengungkapkan, untuk memenuhi kebutuhan chip semikonduktor, pemerintah terus berupaya melakukan program substitusi impor. Pemberian insentif dalam rangka penanaman modal merupakan salah satu upaya mendorong investasi industri semikonduktor di Indonesia.

Agus mengemukakan, sebagai salah satu negara G20 dengan jumlah penduduk besar, menjadikan keberadaan industri semikonduktor di Indonesia merupakan hal yang strategis. Sebab, industri semikonduktor memiliki prospek sebagai penghasil devisa dan penciptaan lapangan kerja.

Indonesia juga berkeinginan untuk ikut berpartisipasi dalam rantai nilai industri semikonduktor dunia melalui kerja sama dengan berbagai Mitra MultiNational Companies (MNCs) dan perusahaan start up di seluruh dunia.

“Indonesia akan mendorong pertumbuhan industri hilir elektronika dan secara simultan berupaya mengundang investasi industri semikonduktor dunia yang meliputi industri Fabless, Foundry, IDM, dan OSAT ke Indonesia,” tutur dia.

Secara khusus, lanjutnya, Indonesia ingin belajar dari keberhasilan Taiwan dalam membangun industri semikonduktor yang saat ini berkontribusi besar bagi ekonomi negaranya.

“Peran signifikan Industrial Technology Research Institute (ITRI) Taiwan bagi industri semikonduktor di negera tersebut, ingin kami gunakan sebagai lesson learned dalam mengembangkan Engineering Center di bawah Kementerian Perindustrian,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier menyampaikan, produk semikonduktor memegang peranan penting bagi Indonesia, khususnya dalam memproduksi komponen utama untuk produk-produk IoT, AI dan teknologi tinggi lainnya.

“Pengembangan industri semikonduktor dalam negeri juga perlu dilakukan untuk mengamankan rantai pasok produk industri, termasuk komponen chip agar sejalan dengan pendalaman struktur industri,” ujarnya.

Berita Terkait