Pasokan Bulk Sinovac Lancar, Menkes Tegaskan Indonesia Tidak Kekurangan Vaksin COVID-19

April 19, 2021, 01:48 PM UTC

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi hadir pada rapat kerja dengan Komisi IX DPR di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 15 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan stok vaksin COVID-19 Indonesia untuk April dan Mei 2021 masih tergolong aman.

Hal ini terjadi karena Indonesia memiliki empat sumber vaksin COVID-19 dan didorong oleh produksi dalam negeri oleh PT Bio Farma (Persero).

“Di dunia ini rebutan vaksinnya makin keras, Alhamdulillah Indonesia punya empat sumber vaksin. Kalau ada yang terganggu, masih ada sumber lain. Jadi kalau pun sumber vaksin AstraZeneca terganggu, kita masih ada sumber dari China yang sangat lancar,” kata Menkes Budi dalam acara Peninjauan Vaksinasi Seniman dan Budayawan, Senin 19 April 2021.

Seperti diketahui, Indonesia telah mendapat tambahan enam juta bulk vaksin COVID-19 dari Sinovac pada Minggu, 18 April 2021. Sebanyak 80% atau 4,8 juta dosis vaksin Sinovac ini ditargetkan rampung diproduksi oelh Bio Farma pada Mei 2021.

“Walau pun agak rem (pengiriman stok vaksin), tapi kita yakin untuk April itu terpenuhi sekaligus menyiapkan stok vaksin untuk Mei,” tambah Menkes Budi.

Mantan Direktur Bank Mandiri ini memastikan pengiriman bulk vaksin Sinovac tetap terjaga. untuk diketahui, bulk vaksin buatan China itu datang ke Indonesia setiap dua minggu sekali.

Dengan demikian, Indonesia secara keseluruhan telah mendapat 59,5 juta bulk vaksin Sinovac. Bio Farma telah mengonversi sebanyak 70% atau 47 juta dosis vaksin Sinovac tersebut.

Adapun 22 juta dosis vaksin Sinovac produksi Bio Farma tercatat telah dikirimkan ke berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, pemerintah juga mengharapkan vaksin merah putih untuk bisa diproduksi massal pada akhir tahun 2021.

Budi menambahkan produksi vaksin dalam negeri dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada pasokan vaksin asing yang sangat rawan terganggu rantai pasoknya.

Selain itu, produksi vaksin merah putih juga bisa membantu 130 negara yang saat ini masih belum mendapatkan akses vaksin sama sekali.

“Pemerintah memutuskan untuk tetap mengembangkan vaksin merah putih karena tidak hanya menyelesaikan akses vaksin di tingkat nasional, tetapi global. Mengingat ada 130 negara yang belum terakses vaksin sama sekali,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito.

Vaksin merah putih yang menelan biaya Rp400 miliar ini tengah memasuki tahap pra uji klinis. Selain itu, Indonesia juga tengah mengembangkan vaksin dalam negeri lainnya, yakni vaksin nusantara.

Vaksin nusantara besutan mantan Menkes Terawan Agus Putranto dikabarkan telah memasuki tahap uji klinis fase dua, meski tidak mendapat restu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).(RCS)