Pasca Akuisisi Bhakti Coal Resources, IATA Bakal Miliki Aset Batu Bara US$181,9 Juta

02 Desember 2021 14:00 WIB

Penulis: Merina

Editor: Vega Aulia

Penandatanganan PPJB PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA) dan PT MNC Investama Tbk (BHIT). Sumber laman Facebook Resmi Hary Tanoesoedobjo (Laman Facebook Resmi Hary Tanoesoedibjo)

JAKARTA – PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA) telah menandatangani Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) dengan PT MNC Investama Tbk (BHIT) untuk mengakuisisi 99,33% saham PT Bhakti Coal Resources (BCR). 

Bhakti Coal Resources adalah perusahaan induk dari sembilan perusahaan batu bara dengan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang berlokasi di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Seperti dikutip dari laman Facebook resmi Hary Tanoesoedibjo selaku Executive Chairman MNC Group pada Kamis, 2 Desember 2021, PPJB tersebut telah ditandatangani pada Rabu, 1 Desember 2021. 

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), IATA dan BHIT menyepakati harga transaksi pembelian 99,33% saham BCR tersebut sebesar US$140 juta.

“IATA akan membiayai akuisisi tersebut melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan seluruh proses transaksi akan selesai pada semester 1 tahun 2022,” tulis manajemen.

BCR memiliki sembilan IUP batu bara, dua di antara sudah dalam tahap produksi yaitu PT Bhumi Sriwijaya Perdana Coal (BSPC) dan PT Putra Muba Coal (PMC), dengan perkiraan produksi sebesar 2,5 juta metrik ton tahun ini. 

“Valuasi gabungan 100% PT Bhumi Sriwijaya Perdana Coal (BSPC) dan 53,84% PT Putra Muba Coal (PMC) dari KJPP Kusnanto & Rekan adalah US$181,9 juta,” ungkap manajemen. 

Sedangkan, dua IUP lainnya yakni PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE) dan PT Arthaco Prima Energi (APE) akan mulai memproduksi batu bara pada 2022. 

Selanjutnya, lima IUP lainnya yaitu PT Energi Inti Bara Pratama (EIBP), PT Sriwijaya Energi Persada (SEP), PT Titan Prawira Sriwijaya (TPS), PT Primaraya Energi (PE), dan PT Putra Mandiri Coal (PUMCO), diperkirakan mulai beroperasi dalam satu atau dua tahun mendatang. 

Adapun total luas area pertambangan untuk sembilan IUP tersebut adalah 74.004 hektare (ha).

Hingga akhir tahun 2021, pendapatan BCR diperkirakan mencapai US$74,8 juta dengan EBITDA US$33 juta. BCR akan meningkatkan produksinya menjadi 8 juta metrik ton pada 2022 dan 12 juta metrik ton pada 2023. 

Berita Terkait