Pasar Tenaga Kerja AS Masih di Bawah Ekspektasi Pasar, Rupiah Diramal Menguat ke Level Rp14.230

01 September 2021 09:11 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Sukirno

Karyawan menunjukkan uang Dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu Bank BUMN di Jakarta, Selasa 2 Juni 2020. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat cukup signifikan, pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 195 poin atau 1,33 persen ke level Rp14.415 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,039 poin atau 0,04 persen ke level 97,869 pada pukul 14.53 WIB. New Normal yang akan diberlakukan secara bertahap dianggap menjadi sentimen positif terhadap pergerakan pasar saat ini. Foto: Ismail pohan/TreAsia

JAKARTA – Survei tingkat keyakinan konsumen Amerika Serikat (AS) yang masih berada di bawah ekspektasi pasar diproyeksikan menjadi katalis penguatan rupiah hari ini. Nilai mata uang rupiah diprediksi bertengger di kisaran support Rp14.230 per dolar AS.

Adapun potensi resisten nilai tukar rupiah berada di level Rp14.300 per dolar AS. Analis pasar uang Ariston Tjendra mengatakan perbaikan ekonomi di Negeri Paman Sam lebih lambat dari perkiraan pasar.

Selain itu, Amerika Serikat juga masih dibayangi lonjakan kasus COVID-19. Walhasil, otoritas The Federal Reserve (The Fed) diramal tidak bakal terburu melepas stimulus.

“Semalam data survei tingkat keyakinan konsumen AS bulan Agustus dirilis lebih rendah dari ekspektasi. Penurunan data ini bisa dikaitkan dengan kasus COVID-19 yang kembali tembus 100 ribu di AS,” jelas Ariston kepada TrenAsia.com, Rabu, 1 September 2021.

Berdasarkan data Worldometers, Amerika Serikat mencatatkan sebanyak 156.002 kasus COVID-19 pada Selasa, 31 Agustus 2021. Di hari yang sama, Negeri Paman Sam juga melaporkan sebanyak 1.232 kasus kematian baru akibat virus corona.

Dengan demikian, total kasus COVID-19 di Amerika Serikat telah menembus 40,11 juta kasus per Selasa, 31 Agustus 2021. Adapun total kasus sembuh mencapai 31,02 juta kasus.

Di dalam negeri, data Indeks Harga Konsumen (IHK) bakal menjadi penentu arah pergerakan rupiah hari ini. Bila IHK menunjukan arah penguatan inflasi, Ariston mengisyaratkan adanya perbaikan konsumsi rumah tangga.

“Bila hasilnya tidak mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang bisa diartikan tingkat konsumsi terjaga meskipun situasi PPKM, ini bisa mendukung penguatan rupiah,” jelas Ariston.

Bank Indonesia (BI) melaporkan IHK Juli 2021  berada di level inflasi 0,07% month to month (mtm). Tingkat inflasi berada di level 1,52% secara tahunan (year on year/yoy).

Berita Terkait