Pasar Kripto Terpuruk Lagi, Analis: Belum Ada Momentum Bullish

29 Juni 2022 18:02 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Drean Muhyil Ihsan

Ilustrasi Bitcoin (Pixabay)

JAKARTA - Pasar kripto kembali terpuruk di zona merah berdasarkan pantauan Coin Market Cap, Rabu, 29 Juni 2022 pukul 14.20 WIB dan diperkirakan dalam waktu dekat ini belum ada momentum yang bisa mendorong tren bullish.

Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin (BTC) mengalami penurunan 4,31% dan menempati harga US$20.006 atau setara dengan Rp296,82 juta dalam asumsi kurs Rp14.837 per dolar Amerika Serikat (AS).

Aset-aset yang berada di jajaran 10 tertinggi untuk kapitalisasi pasar terbesar (big caps) pun mengalami hal serupa.

Ethereum mencatat penurunan 6,93%, Tether (USDT) 0,02%, Binance Coin (BNB) 7,72%, Binance USD (BUSD) 0,16%, Ripple (XRP) 6,18%, Cardano (ADA) 4,51%, Solana (SOL) 9,19%, dan Dogecoin (DOGE) 9,32%. Hanya USD Coin (USDC) yang berada di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,01%.

Trader Tokocrypto Afid Sugiono mengatakan, pergerakan pasar kripto untuk pekan ini diprediksi masih akan mendatar (sideways) karena faktor inflasi dan perlambatan ekonomi global ke depan.

“Dari pergerakkan market kripto masih datar saja. Ini diperkirakan akan terus berlangsung lama. Salah satu penyebab market terus sideways di antaranya investor khawatir mengenai inflasi dan potensi perlambatan ekonomi global ke depan,” ujar Afid melalui keterangan tertulis, Rabu, 29 Juni 2022.

Menurut Afid, selera risiko investor kripto sedang lesu seperti yang terjadi juga di pasar saham, terutama di bursa Wall Street dan Nasdaq.

Selain itu, kebanyakan pelaku di pasar kripto pun menjadikan berita-berita bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) sebagai referensi.

Pada Selasa, 28 Juni 2022, pemegang kebijakan The Fed mengatakan bahwa pihaknya akan menaikkan suku bunga lagi untuk menekan inflasi. Pernyataan itu pun pada gilirannya berdampak kepada pasar kripto.

“Investor bisa mencerna rentetan komentar pejabat The Fed tersebut sebagai sinyal bahwa The Fed masih bakal menaikkan suku bunga acuannya dengan agresif dan mengabaikan dampak negatifnya ke pasar saham dan kripto,” ungkap Afid.

Ia memperkirakan belum ada momentum yang baik untuk beberapa waktu ke depan. Ditambah lagi, ekonom Wall Street meramalkan resesi ekonomi akan terjadi dalam kurun waktu 12 bulan mendatang.

“Bitcoin akan menuju test support berkali-kali, di mana harganya bisa jadi akan berada di level US$19.800 hingga US$17.000 dalam beberapa waktu ke depan. Dari analis teknikal, prospek bullish belum bisa terihat. Untuk bergerak bullish, BTC harus melewati level resistance di titik US$23.000," pungkasnya.

Berita Terkait