Paruh Pertama 2021, CTRA Catat Realisasi Capex Rp400 Miliar

10 September 2021 12:32 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Amirudin Zuhri

Kawasan superblok Ciputra World milik Grup Ciputra. / Ciputraworldjakarta.com

JAKARTA – Perusahaan properti PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mencatat realisasi Capital Expenditure (Capex) atau belanja modal sebesar Rp400 miliar sepanjang paruh pertama tahun ini.

Direktur Utama CTRA Candra Ciputra mengungkapkan, penggunaan terbesar dialokasikan untuk tanah dan pengembangan yang mencapai 74%.

“Selain itu, belanja modal juga digunakan untuk pengembangan Mal Ciputra Wold Surabaya Extension,” ujarnya dalam Public Expose secara daring, Jumat, 10 September 2021.

Secara rinci, belanja modal sebesar Rp400 miliar tersebut digunakan untuk segmen mal sebesar 13%, diikuti oleh rumah sakit 4%, hotel 1%, dan sisanya untuk kebutuhan lainnya.

Ia mengakui, capex perseroan menurun jika dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai Rp800 miliar. Hal ini disebabkan oleh penyesuaian kemampuan dari kondisi keuangan dan pendapatan perseroan.

Diketahui, sepanjang paruh pertama tahun ini, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp4,02 triliun. Jumlah ini tercatat meningkat 43,4% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,8 triliun.

Penjualan rumah hunian dan ruko berkontribusi paling besar pada total pendapatan yaitu sebesar Rp2,04 triliun. Selanjutnya, penjualan kantor tercatat Rp548,96 miliar, apartemen tercatat Rp298,82 miliar, dan terakhir kavling tercatat Rp301,42 miliar. Total penjualan ini tercatat sebesar Rp3,19 triliun.

Sementara itu, pendapatan usaha dari rumah sakit tercatat Rp368,44 miliar, pusat niaga tercatat Rp212,01 miliar, hotel Rp116,4 triliun, sewa kantor Rp108,47 miliar, lapangan golf Rp18,75 miliar, dan lain-lain Rp4,74 miliar. Total pendapatan usaha ini sebesar Rp828,82 miliar.

Adapun untuk total aset, CTRA mencatat sebesar Rp40,36 triliun, meningkat tipis dari posisi aset akhir 2020 yang sebesar Rp39,25 triliun. Aset lancar tercatat sebesar Rp21,72 triliun dan aset tidak lancar sebesar Rp20,64 triliun.

Berita Terkait