Pariwisata Terpuruk, Bali Beralih ke Sektor Pertanian

15 September 2021 00:30 WIB

Penulis: Rizky C. Septania

Pariwisata Terpuruk, Bali Perkuat Sektor Pertanian (Dok. Humas Pemprov Bali)

DENPASAR – Sektor pertanian akan terus diperkuat ke depan setelah serangan pandemi Covid-19 yang membuat sektor pariwisata di Pulau Bali terpuruk.

Menurut Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), pandemi Covid-19 yang menekan pertumbuhan ekonomi Bali hingga titik nadir, telah menyadarkan semuanya.

Untuk itu, Wagub Bali mendorong upaya penguatan sektor pertanian sebagaimana disampaikan saat menjadi salah satu narasumber pada 2nd Webinar Transformasi Bali Nusra “Balinusra Menuju Pertanian 4.0” yang diselenggarakan oleh Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Provinsi Bali, secara daring pada Selasa, 14 September 2021.

Bali mengalami kontraksi ekonomi paling hebat jika dibandingkan provinsi lain di Indonesia karena sangat bergantung pada sektor pariwisata.

Dia menyebutkan, 54% PDRB bersumber dari sektor ini sehingga di masa pandemi, Bali kehilangan devisa hingga Rp9,7 triliun setiap bulan.

“Bali sangat terpuruk karena ketergantungan pada sektor pariwisata. Sementara daerah lain lebih tahan,” ucapnya.

Menurut Cok Ace, hal ini perlu dijadikan bahan evaluasi untuk menggenjot sektor alternatif selain pariwisata.

Salah satu sektor alternatif yang menurutnya harus digarap lebih serius adalah pertanian. Untuk menggairahkan sektor pertanian, ia mendorong pemanfaatan teknologi.

“Penerapan teknologi di bidang pertanian sangat penting untuk menarik minat generasi muda menekuni sektor ini,” imbuhnya.

Dengan demikian, ke depan ia berharap sektor pertanian bisa memberi kontribusi yang sama besar dengan pariwisata.

“Jika kedua sektor ini bisa dijadikan lokomotif perekonomian secara imbang, saya yakin kita tak akan menghadapi keterpurukan seperti ini,” sebutnya.

Untuk itu, Wagub Cok Ace mengajak masyarakat Bali untuk kembali menekuni pertanian dan membangkitkan kerajinan lokal di tengah kondisi pandemi Covid-19. Harapannya bisa mendongkrak aktivitas perekonomian yang kini tengah tertekan.

Padahal, menurutnya, Bali pada awalnya hidup di sektor agraris kemudian beralih pada sektor pariwisata, dan secara tanpa sengaja melompati sektor industri pengolahan (sekunder). Kontribusi sektor pariwisata sebelum pandemi mencapai 68%, sedangkan sektor pertanian dan pengolahan berkisar 15 hingga 17%.

“Oleh karena itu, beberapa langkah yang saat ini bisa dilakukan yakni kembali menekuni sektor pertanian, kelautan, perikanan, dan membangkitkan kerajinan lokal sebagai mata pencaharian penopang ekonomi rakyat,” ucapnya. (BN)

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Rohmat pada 14 Sep 2021 

Berita Terkait