Pantau Omnibus Law, Kurs Rupiah Diprediksi Cenderung Lemah Rp14.505-Rp14.881

JAKARTA – Kurs rupiah sepekan ke depan diprediksi bakal bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Mengutip Bloomberg, rupiah pada Jumat, 16 Oktober 2020, ditutup melemah 0,05% sebesar 7,5 basis poin ke level Rp14.697 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia (BI) atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) terdepresiasi 0,04% ke level Rp14.766 per dolar AS.

Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji mengatakan, rupiah cenderung melemah disebabkan oleh sentimen negatif ketidakpastian hasil negosiasi pasca Brexit.

“Hal itu memengaruhi perilaku market untuk bersikap wait and see,” ungkapnya kepada TrenAsia.com, Minggu, 18 Oktober 2020.

Kemudian, alasan lain juga disebabkan oleh program stimulus AS yang belum cair lantaran dinamika politik antara eksekutif dan legislatif.

Secara keseluruhan, sentimen yang datang dari luar negeri bakal dipengaruhi oleh perilisan Beige Book oleh the Fed pada Rabu mendatang. Kemudian, data produk domestik bruto (PDB) China, dan data purchasing managers Index (PMI) dari negara-negara maju.

Sebaliknya, untuk sentimen positif, Nafan menilai pengesahan omnibus law pekan pertama Oktober lalu masih berdampak pada perkembangan rupiah. Kemudian, market juga masih euphoria terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level 4%.

“Pasar menanggapi positif komitmen BI untuk melaksanakan program quantitative easing (QE) dalam rangka meningkatkan likuiditas perbankan,” tambahnya.

Nafan pun memproyeksikan rentang rupiah sepekan ke depan di Rp14.505 per dolar AS hingga Rp14.881 per dolar AS. (SKO)

Tags:
Bank IndonesiaHeadlineKurs Jisdorkurs rupiahNilai Tukar RupiahOmnibus Law Cipta KerjaPrediksi rupiahRupiahthe fedUndang-undang Cipta Kerja
Aprilia Ciptaning

Aprilia Ciptaning

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: