Pandemi Jadi Biang Kerok, Pembangunan Pabrik CPO Dharma Satya Nusantara (DSNG) Tertunda

07 September 2021 21:00 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Rizky C. Septania

Manajemen emiten perkebunan kelapa sawit PT Dharma Satya Nusantara Tbk, / Dsn.co.id

JAKARTA – Proyek pembangunan dua pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) milik PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) harus tertunda. Hal ini diakibatkan oleh pandemi COVID-19 yang masih berlangsung hingga saat ini.

Direktur Keuangan Dharma Satya Nusantara, Jenti Widjaja mengungkapkan bahwa proyek tersebut berada di wilayah Kalimantan. Masing-masing pabrik diperkirakan mampu memproduksi 45 ton per jam dan 60 ton per jam.

Rencananya, perseroan akan mendatangkan mesin-mesin pengolahan CPO dari Negeri Jiran, Malaysia. Namun, karena adanya pembatasan di Malaysia dan Indonesia selama pandemi berlangsung, pengiriman peralatan tersebut terpaksa tertunda.

“Kami telah memesan mesin dari Malaysia yang mengalami lockdown berkepanjangan dan membuat target penyelesaian proyek tertunda,” ujarnyanya dalam paparan public virtual, Selasa, 7 September 2021.

 

Padahal, kata Jenti, pabrik perseroan dengan kapasitas 60 ton per jam ditargetkan mulai beroperasi pada tahun ini. Karena adanya sebab tersebut, maka realisasi operasionalnya harus diundur hingga kuartal pertama 2022.

“Sedangkan, untuk pabrik dengan kapasitas 45 ton per jam tetap ditargetkan rampung dan mulai beroperasi di kuartal IV-2021,” tambahnya.

Penundaan proyek tersebut berdampak pada penyerapan belanja modal (capital expenditure/capex) yang telah dianggarkan perseroan untuk tahun ini sebanyak Rp1 triliun. Hingga paruh pertama tahun ini, penyerapan capex baru mencapai 30%.

“Sebanyak 80 persen dari capex yang terserap dipakai untuk pembangunan pabrik CPO kami. Di mana sisanya digunakan untuk kebutuhan infrastruktur regular,” papar Jenti.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah memiliki 10 pabrik CPO dengan total kapasitas 570 ton per jam. Jika kedua proyek pembangunan pabrik tersebut selesai dan mulai beroperasi, perseroan memproyeksikan kapasitas pengolahan mencapai 675 ton per jam.

Berita Terkait