Pandemi dan Kemerdekaan Investor Domestik di Pasar Modal Indonesia

16 Agustus 2021 15:05 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Amirudin Zuhri

Karyawan melintas di depan layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin, 21 Juni 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Pandemi COVID-19 telah meluluhlantakan seluruh sektor perekonomian secara global, termasuk Indonesia. Kondisi ini pun memengaruhi pergerakan pasar modal di seluruh dunia.

Di dalam negeri, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jilid I yang diterapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pada Mei 2020 membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk. Bahkan, indeks komposit sempat menyentuh posisi terendahnya pada level 3.900.

Di tengah fenomena panic selling itu, investor asing kabur ratusan triliun rupiah dari bursa domestik. Catatan tersebut merupakan yang terburuk sejak periode Juni 2012. Kekhawatiran ini terus berlanjut hingga beberapa bulan selama pandemi 2020. 

Pada saat dana asing keluar, investor dalam negeri justru menunjukan “taringnya”. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi pun mengatakan bahwa tahun 2020 sebagai kebangkitan investor domestik ritel di pasar modal Indonesia.

Inarno menyebut, kebangkitan ini turut ditandai adanya peningkatan jumlah investor yang aktif bertransaksi, peningkatan aktifitas investor domestik ritel dari sisi frekuensi maupun nilai transaksi. Kepemilikan saham tahun lalu juga didominasi oleh investor domestik.

“Kebangkitan ini ditandai dengan berbagai pencapaian signifikan pada peningkatan jumlah single investor identification (SID), baik saham maupun SID pasar modal," ujarnya pada akhir tahun lalu.

 

Rekor di Pasar Modal Indonesia

Nyatanya, selalu ada hikmah dibalik cobaan. Seperti halnya yang terjadi pada pasar modal Indonesia. Meskipun IHSG sempat anjlok begitu dalam, terdapat berbagai rekor yang dicatatkan BEI sejak tahun lalu.

Jumlah investor baru di berbagai intrumen investasi pada pasar modal Indonesia tumbuh 48,82% per 10 Desember 2020, atau meningkat dari 1.212.930 SID menjadi 3.697.284 SID. Kepemilikan investor domestik di BEI juga pecah rekor dengan porsi 50,44% ritel domestik berbanding 49,56% yang digenggam investor asing.

Hal yang sama juga terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian bursa. Data rata-rata nilai transaksi harian secara tahunan (year-to-date/ytd) Januari – November 2020 yang berjumlah Rp8,42 triliun, sebanyak 45,9%.

Investor ritel domestik atas frekuensi transaksi di BEI turut melonjak. Secara tahunan, frekuensi rata-rata transaksi selama 2020 meningkat 31,98% menjadi 619.000 kali transaksi dari 469.000 kali transaksi pada tahun sebelumnya.

Berbagai catatan ini, secara perlahan mengembalikan IHSG kembali ke posisi sebelum adanya PSBB. Pada kuartal II-2020, indeks komposit menyentuh level tertingginya yakni 5.070,56. Capaian tersebut terus membaik menjadi 5.371,47 pada kuartal III-2020 dan 6.165,62 pada kuartal terakhir tahun lalu.

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor di pasar modal terus peningkat pada periode 2021. Dibandingkan dengan tahun lalu sampai dengan Juni 2021, jumlah investor di pasar modal meningkat hingga 44,45%.

Dana IPO Meroket 

Kondisi pasar modal Indonesia kian membaik pada periode tahun ini. Hal tersebut dibuktikan dari meroketnya penghimpunan dana melalui penawaran umum pedana saham (initial public offering/IPO) sepanjang 2021.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan penghimpunan dana melalui pasar modal hingga 3 Agustus 2021 tumbuh sebesar 99,36% secara tahunan (year-on-year/yoy) atau sebesar Rp117,94 triliun dari 27 emiten baru yang melakukan penawaran umum.

Angka ini belum termasuk realisasi IPO perusahaan start-up yaitu PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang efektif melantai per tanggal 6 Agustus 2021. Capaian ini hampir melampaui perolehan tahun 2020 yang sebesar Rp118,7 triliun.

Jika dihitung dengan IPO Bukalapak senilai Rp21,9 triliun, maka total penghimpunan dana mencapai Rp139,84 triliun. Nilai tersebut setara 117,8% lebih tinggi dari penghimpunan dana di BEI sepanjang 2020.

Berdasarkan catatan OJK, masih terdapat 83 penawaran umum dalam proses (pipeline) senilai total Rp52,56 triliun dengan 40 penawaran umum, di antaranya akan dilakukan melalui mekanisme penawaran umum perdana saham (IPO).

"Antusiasme dan optimisme penghimpunan dana melalui pasar modal yang terjaga ini diharapkan dapat menjadikan pasar modal sebagai motor penggerak pemulihan ekonomi nasional,” ujar Wimboh, Selasa, 10 Agustus 2021.

Berita Terkait