Pabrik Sel Baterai Sudah Groundbreaking, Indonesia Lanjut Bangun Pabrik Precursor dan Cathode

17 September 2021 19:32 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Amirudin Zuhri

Ilustrasi baterai listrik kendaraan mobil / Pixabay

JAKARTA – Setelah groundbreaking pabrik sel baterai kendaraan listrik, Indonesia berencana melanjutkan pembangunan pabrik precursor dan pabrik cathode pada Desember 2021.

Hal tersebut disampaikan Menteri Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia. Bahlil mengatakan pembangunan pabrik ini merupakan bagian dari perjanjian investasi antara PT Indonesia Battery Corporation dengan Konsorsium LG senilai US$9,8 miliar.

“Di Desember, precursor-cathode InshaAllah sudah kita bangun lagi. Jadi saya targetkan total 9,8 miliar ini paling lambat sudah jalan 2022 awal,” ujar Bahlil dalam konferensi pers, Jumat, 17 September 2021.

Dalam perjanjian investasi ini, Indonesia memang berniat mengelola baterai mobil listrik mulai dari hulu ke hilir. Setidaknya ada 7 tahapan penting, yaitu mining, refining, precursor plant, cathode plant, battery cell, battery pack, dan recycling.

Pabrik sel baterai yang baru saja dilakukan groundbreaking dua hari lalu tersebut awalnya akan mengandalkan impor bahan baku untuk 2 tahun pertama. Bahlil menjelaskan ini karena pabrik-pabrik bagian hulu baru akan selesai paling cepat pada akhir 2023.

“Pabrik baterai sel yang sudah ada 10 GWh sementara kita ambil dulu impor dari tempat lain sambil ini kita bangun,” ujar Bahlil.

Pabrik sel baterai IBC-LG berkapasitas 10 GWh ini direncanakan akan memasok baterai untuk 150.000 mobil listrik produksi pabrikan Korea Selatan, Hyundai dan Kia.

Hyundai Motor Group terus fokus mengembangkan kemampuannya agar dapat menjadi pemimpin global di pasar kendaraan listrik, yang mana menjadi kunci daya saing di masa depan. Keberadaan pabrik ini adalah bagian dari upaya tersebut,” ujar Chairman Hyundai Motor Group dalam siaran pers, Rabu, 15 September 2021.

Pabrik sel baterai ini akan membantu Hyundai Motor Group untuk mendapatkan pasokan sel baterai agar dapat memenuhi permintaan kendaraan listrik yang semakin meningkat.

Sel baterai yang diproduksi di Karawang ini akan diaplikasikan pada model kendaraan listrik milik Hyundai Motor dan Kia yang dibangun di atas platform khusus kendaraan listrik dari Hyundai Motor Group, yaitu Electric-Global Modular Platform (E-GMP).

Saat beroperasi secara penuh, fasilitas ini ditargetkan dapat memproduksi 10 GWh sel baterai lithium-ion dengan bahan katoda NCMA (nikel, kobalt, mangan, aluminium) setiap tahunnya. Selanjutnya, pabrik akan disiapkan untuk meningkatkan kapasitas produksinya hingga 30 GWh.

Berita Terkait