Nyaris Sebulan Digembok, Saham DCII Siap Manggung Lagi

12 Agustus 2021 07:19 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Sukirno

Manajemen PT DCI Indonesia Tbk (DCII) saat seremonial pencatatan perdana saham (IPO) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) / Dok. Perseroan

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) akan membuka penghentian sementara (suspensi) perdagangan saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) pada perdagangan Kamis, 12 Agustus 2021. 

Menukil pengumuman Bursa, Rabu, 11 Agustus 2021, pembukaan suspensi saham DCII dilakukan di pasar reguler dan pasar tunai mulai perdagangan sesi pertama hari ini. Saham tersebut telah disuspensi sejak 17 Juni 2021. 

Sebelum digembok, BEI sempat melayangkan pertanyaan kepada perseroan terkait gadai saham DCII yang dilakukan Anthoni Salim pada 15 Juni 2021. Pada saat itu, pihak manajemen DCII mengungkapkan bahwa transaksi tersebut tidak ada hubungannya dengan rencana pengembangan bisnis perseroan.

“Perseroan tidak pernah menerima aliran yang bersumber dari aktivitas gadai saham yang dilakukan oleh pemegang saham perseroan,” tulis Sekretaris Perusahaan DCII, Nicholas Suharsono beberapa waktu lalu.

Selanjutnya, otoritas Bursa kembali meminta penjelasan kepada perseroan terkait konversi saham Presiden Direktur DCII, Otto Sugiri dan Presiden Komisaris DCII, Marina Budiman dari scripless menjadi warkat. Bagi manajemen, penyimpanan dalam bentuk warkat lebih efisien.

Perlu diketahui, saham DCII merupakan saham paling mahal di BEI saat ini. Sahamnya melejit hanya dalam kurun waktu hampir 6 bulan pascapenawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO).

Saat tercatat kali pertama di BEI pada 6 Januari 2021, saham DCII berada pada level Rp525 selembar. Per 17 Juni 2021, saham DCII meroket hingga 11.138% ke posisi Rp59.000 per lembar. Kapitalisasi pasarnya pun tembus Rp140,64 triliun.

Tajamnya kenaikan harga saham DCII diduga akibat aksi borong saham DCII yang dilakukan Bos Grup Indofood, Anthoni Salim, pada 31 Maret 2021. Ia membeli sekitar 192,74 juta lembar saham DCII pada harga Rp5.277 per lembar dengan total nilai pembelian sekitar Rp1,01 triliun.

Berita Terkait