NIM Melebar, Perbankan Kurang Respons Penurunan Suku Bunga Acuan BI?

26 Agustus 2021 14:34 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Gedung Bank Rakyat Indonesia (BRI) di kawasan Sudirman, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Kebijakan Bank Indonesia (BI) menurunkan BI 7 days reverse repo rate (BI-7DRR) rupanya tidak direspons secara agresif oleh industri perbankan. Hal ini tampak dari masih melambungnya net interest margin (NIM) sejumlah bank-bank jumbo pada semester I-2021.

Pengamat perbankan Paul Sutaryono mengatakan kebijakan bank sentral itu seharusnya menjadi alarm bagi perbankan untuk menahan pendapatan bunga.

“Kenaikan NIM itu dapat disebabkan oleh perbedaan antara suku bunga pinjaman yang masih tinggi dan belum turun secara signifikan. Padahal suku bunga acuan atau BI-7DRR sudah turun ke level terendah,” ucap Paul kepada TrenAsia.com, Kamis 26 Agustus 2021.

Seperti diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan ini masih menyepakati untuk menahan BI-7DRR di level 3,5%. Di sisi lain, kenaikan NIM perbankan terjadi pada paruh pertama tahun ini.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi salah satu pelaku perbankan dengan NIM paling mencolok. NIM atau atau marjin bunga bersih di bank pelat merah ini menyentuh angka 7% pada paruh pertama tahun ini.

Paul menilai, tinggi NIM di bank pelat merah ini dipicu oleh lini bisnis utama dari BRI, yakni Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Di tengah kenaikan penyaluran kredit, praktis BRI kecipratan NIM yang tinggi pada semester I-2021.

“Mengapa NIM BRI paling tinggi? Karena bisnis inti atau core business mereka adalah segmen UMKM yang terbukti amat tebal marginnya,” ujar Paul.

Selain BRI, kenaikan NIM juga dialami bank pelat merah lain, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang stabil di level 5%. Angka itu sejalan dengan guideline Bank Mandiri yang mematok NIM di level 4,9%-5,1%

Berkat NIM yang melebar, dua bank ini tercatat memanen pertumbuhan laba bersih hingga double digit. BRI meraih laba bersih Rp12,54 triliun atau tumbuh 22,9% yoy. Lalu, Disusul Bank Mandiri yang membukukan kenaikan laba bersih 21,5% menjadi Rp12,50 triliun.

Berita Terkait