Nilai Transaksi Uang Elektronik Melonjak Tembus Rp305,4 Triliun pada 2021

21 Januari 2022 17:40 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Laila Ramdhini

Warga memindai kode batang atau QR Code saat bertransaksi digital di gerai makanan dan minuman ringan siap saji di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Selasa, 18 Mei 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat nilai transaksi uang elektronik (UE) mencapai Rp305,4 triliun atau tumbuh hingga 49,06% year on year (yoy). Hal itu mencerminkan minat masyarakat yang semakin tumbuh akan transaksi nontunai.

Seiring meningkatnya akseptasi dan preferensi masyarakat dalam berbelanja online, transaksi ekonomi dan keuangan digital yang mencakup cashless payment pun mengalami perkembangan pesat.

Dalam konferensi pers virtual Rapat Dewan Gubernur BI Januari 2022, Gubernur BI Perry Warjiyo pun memproyeksikan peningkatan transaksi uang elektronik sebanyak 17,13% dengan capaian nilaian Rp357,7 triliun untuk 2022.

Sementara itu, BI mencatat nilai transaksi digital banking pun mengalami peningkatan yang drastis, yakni sebesar 45,64% yoy dengan nilai yang mencapai Rp39.814,4 triliun pada tahun 2021. 

Transaksi digital banking diperkirakan akan tumbuh sebesar 24,83% yoy pada 2022 dengan capaian nilai sebesar Rp49.733,8 triliun.

Untuk transaksi tunai, uang kartal yang beredar pada Desember 2021 meningkat sebanyak 6,78% yoy dengan nilai sebesar Rp89,8 triliun.

Melihat minat masyarakat terhadap transaksi nontunai yang semakin tumbuh, BI pun berkomitmen untuk mendorong inovasi system pembayaran digital untuk membantu pemulihan ekonomi.

"Bank Indonesia akan melanjutkan digitalisasi sistem pembayaran untuk mendorong pemulihan ekonomi dan mempercepat pembentukan ekosistem ekonomi dan keuangan digital yang inklusif," ujar Perry di Jakarta, Kamis, 20 Januari 2022.

Salah satu langkah BI untuk mengakselerasi digitalisasi sisitem pembayaran untuk mempercepat pemulihan ekonomi, khususnya dalam aspek konsumsi rumah tangga serta percepatan ekonomi dan keuangan yang inklusif dan efisien, adalah dengan perluasan pengguna QRIS.

BI menargetkan 15 juta pengguna QRIS pada 2022 dengan industri, kementerian/lembaga, dan komunitas. BI juga akan melakukan perluasan fitur-fitur QRIS dan penyiapan model bisnis baru serta aspek teknisnya.

"Ini dalam rangka implementasi QRIS cross border dengan Malaysia," kata Perry. 

BI pun berupaya untuk mendorong akseptasi pemanfaatan BI-FAST untuk transaksi antarbank dan masyarakat dengan memperluas layanannya.

Selanjutnya, BI juga akan menerapkan intensifikasi program elektronifikasi dengan digitalisasi bansos (bantuan sosial), elektronifikasi layanan pemerintah daerah (Pemda), khususnya untuk Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD) dan integrasi moda transportasi. 

BI juga menerapkan penguatan strategi digitalisasi dan perluasan distribusi uang yang mencakup Program Ekspedisi Rupiah Berdaulat ke wilayah 3T (Terluar, Terdepan, Terpencil), serta perluasan gerakan Cinta Bangga dan Paham (CBP) Rupiah. 

Berita Terkait