Nilai Transaksi Kripto dalam Negeri Anjlok hingga 65 Persen pada 2022

20 Januari 2023 16:30 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Ananda Astri Dianka

Ilustrasi aset kripto. (Bitocto.com)

JAKARTA - Setelah tumbuh pesat pada 2021, nilai transaksi aset kripto dalam negeri anjlok hingga 65% pada 2022.

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat nilai transaksi kripto sepanjang 2022 mencapai Rp296,66 triliun.

Angkanya anjlok sekitar 65% dari Rp859,4 triliun pada 2021. Padahal, capaian transaksi pada 2021 mengindikasikan pertumbuhan hingga 1.224% dari Rp64,9 triliun pada 2020.

Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan mengatakan, aktivitas pasar kripto sepanjang 2022 menempuh cobaan yang cukup berat dibanding tahun sebelumnya.

"Aktivitas pasar kripto mendapat cobaan berat di akhir 2022 lalu, tentu kita harus memperkuat aturan-aturan dan pengawasan," ujar Zulhas dalam acara pembukaan Rapat Kerja Bappebti, Kamis, 19 Januari 2023.

Pada tahun 2022, aset-aset kripto, termasuk yang berkapitalisasi pasar terbesar, memang mengalami cobaan yang cukup berat.

Mulai dari tren suku bunga dari The Federal Reserve (The Fed), anjloknya kripto Terra (LUNA), hingga bangkrutnya bursa FTX menjadi sentimen buruk yang mewarnai sepanjang 2022.

Bitcoin, sebagai kripto berkapitalisasi pasar terbesar yang kerap menjadi acuan bagi kinerja aset-aset lainnya, mencatat penurunan hingga 60,3% sepanjang 2022.

Pada 31 Desember 2021 pukul 07.00 WIB, Coin Market Cap mencatat harga BTC berada di posisi US$41.769 atau setara dengan Rp631,25 juta dalam asumsi kurs Rp15.113 per-dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, pada 31 Desember 2022 pukul 07.00 WIB, Coin Market Cap mencatat posisi BTC di US$16.572 (Rp250,45 juta).

Chief Executive Officer (CEO) Indodax Oscar Darmawan menyampaikan beberapa waktu lalu bahwa penurunan harga pada Bitcoin yang terjadi sepanjang 2022 berpotensi untuk memasuki fase jenuh pada 2023.

Pasalnya, pada 2024, akan dilaksanakan halving day Bitcoin yang dinilai Oscar dapat mendongkrak harganya dan diikuti oleh aset-aset kripto lainnya.

Halving day adalah pengurangan pasokan Bitcoin sebanyak setengah di penambangan atau mining yang terjadi setiap empat tahun sekali. Halving day juga membuat harga Bitcoin bisa naik karena terbatasnya suplai dan meningkatnya permintaan.

"Biasanya di tahun 2023 ini akan ada penyesuaian harga menuju Bitcoin Halving berikutnya, " ujar Oscar melalui keterangan resmi beberapa waktu lalu. 

Berita Terkait