Tren Surplus Terus Berlanjut

20 November 2020 16:35 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Sejumlah pekerja tengah menyelesaikan pembuatan furniture di PT Funisia Perkasa, Juru Mudi Baru Kecamatan Benda, Kota Tangerang, Banten, Selasa 13 Oktober 2020. Dimasa pandemi walaupun pasar lokal sedikit berkurang namun pemintaan dari pasar ekspor cukup tinggi walaupun terkendala dalam proses pengiriman. Pengusaha berharap agar pemerintah bisa tetap mendukung dan memperhatikan sektor industri ini khususnya dalam hal ekspor produk. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Ketahanan sektor eksternal dinilai tetap baik, didukung oleh Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan III-2020. Pada periode ini, NPI diperakirakan mencatat surplus atas perbaikan transaksi berjalan dan modal finansial.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan, neraca perdagangan yang meningkat bersumber dari perbaikan ekspor.

Sementara itu, surplus transaksi modal dan finansial didorong oleh berlanjutnya aliran modal asing yang masuk.

“Keyakinan investor terhadap prospek perekonomian domestik tetap terjaga,” mengutip siaran resmi, Jumat, 20 November 2020.

Seperti diketahui, pada Oktober 2020 neraca perdagangan kembali mencatat surplus sebesar US$3,61 miliar. Ini kembali terjadi setelah bulan sebelumnya juga tercatat surplus US$2,39 miliar.

Menurut Perry, surplus neraca perdagangan ini berkontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

Tren Surplus Kembali Berlanjut

Kemudian, apabila ditilik lebih lanjut, sejak awal tahun hingga Oktober 2020, surplus yang tercatat mencapai US$17,07 miliar. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan periode Oktober tahun lalu yang tercatat defisit US$2,12 miliar.

Surplus pada periode ini dipengaruhi oleh neraca perdagangan nonmigas yang juga mencatat surplus berlanjut. Pada Oktober 2020, surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat sebesar US$4,06 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumya sebesar US$2,90 miliar.

Adapun defisit neraca perdagangan migas menurun dari US$504,6 juta pada September 2020 menjadi sebesar US$450,1 juta. Penyebabnya adalah penurunan ekspor migas yang lebih rendah dibandingkan dengan penurunan impor migas.

Selain itu, hingga 16 November 2020, investasi portofolio asing atau net inflows tercatat sebesar US$3,68 miliar.

Kemudian, untuk posisi cadangan devisa (cadev) per akhir Oktober 2020 juga tetap tinggi, yakni US$133,7 miliar. Cadev tersebut setara dengan pembiayaan 9,7 bulan impor atau 9,3 bulan impor. Selain itu, posisinya juga disebut berada di atas standar kecukupan tiga bulan impor.

Perry pun memprediksi, ke depan defisit transaksi berjalan 2020 akan tetap rendah. Posisinya di bawah 1,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Berita Terkait