Negara-Negara Maju Masuk Jurang Resesi Dihantam Pandemi, Nasib Ekonomi Indonesia?

05 Agustus 2020 08:02 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Kota New York, AS. / Pixabay

JAKARTA – Dalam satu semester saja, pandemi COVID-19 mampu membuat sejumlah negara masuk dalam jurang resesi ekonomi, terutama banyak negara maju di seluruh dunia.

Resesi ekonomi terjadi akibat penguncian aktivitas di banyak negara. Hal itu melumpuhkan perekonomian yang membuat produk domestik bruto (PDB) terjun bebas.

Tidak hanya itu, indikator lain penyebab resesi adalah tergerusnya pendapatan riil, hilangnya banyak lapangan kerja, amblesnya penjualan ritel, dan melemahnya industri manufaktur. Setidaknya, ada delapan negara maju yang sudah masuk dalam jurang resesi akibat COVID-19.

Asia

1. Korea Selatan

Sebagai salah satu negara dengan perekonomian terbesar di Asia, Korea Selatan harus mengakui lemahnya kinerja ekspor pada kuartal II-2020 hingga 16,6%. Padahal, ekspor Korea Selatan berkontribusi hingga 40% dari total penerimaan negara.

Sehingga, Negeri Ginseng tersebut melaporkan susutnya pertumbuhan ekonomi hingga 3,3% pada Juni 2020. Adapun, pertumbuhan PDB Korea Selatan secara tahunan diproyeksikan turun 2,9%, bahkan tercatat menjadi yang terlemah sejak 1998.

2. Singapura

Singapura harus menerima kenyataan resesi pada kuartal II-2020. PDB Singapura anjlok sedalam 41,2% dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya.

Kontraksi ini jauh lebih dalam dari prediksi sejumlah ekonom yang semua di kisaran 37,4%. Resesi Singapura menambah catatan kelam ekonomi banyak negara maju sekalipun yang telah tersungkur akibat COVID-19.

Salah satu faktor terbesar resesi ekonomi Singapura adalah karena ekonomi negara tersebut sangat bergantung pada perdagangan. Sedangkan lockdown di banyak negara membuat ekonomi sangat melambat.

3. Jepang

Dengan pertumbuhan ekonomi terkontraksi hingga 3,4% pada kuartal I-2020, Jepang menjadi salah satu negara maju yang resesi. Hal tersebut dikarenakan pemerintah Jepang mengumumkan kondisi darurat pada April 2020.

Meskipun tidak mengunci negara secara nasional, status darurat tersebut sangat berdampak pada iklim bisnis di Jepang.

Uni Eropa

4. Jerman

Lebih awal lagi, Jerman bahkan telah melaporkan resesi akibat kontraksi sebesar 2,2% yang membawanya pada resesi pada kuartal pertama tahun ini. Kontraksi ekonomi Jerman tidak hanya akibat COVID-19, namun turut terimbas perang dagang Amerika Serikat dan China.

Dengan kondisi tersebut, Jerman melaporkan tengah berada di kondisi keuangan terburuk sejak krisis ekonomi pada 2009 silam. Kabar terbaru, Jerman melaporkan pendalaman kontraksi PDB hingga 10,1% di kuartal kedua tahun ini.

5. Prancis

Prancis mencatat pertumbuhan ekonomi terkontraksi 5,8% sejak Maret 2020. Pada kuartal II-2020, Prancis kembali mencatat pertumbuhan ekonomi minus 13,8%.

6. Italia

Italia sempat dikenal sebagai pusat wabah COVID-19 dengan berbagai kebijakan penguncian yang restriktif. Akibatnya, perekonomian Italia mengkerut hingga minus 4,7%. Setali tiga uang dengan Prancis dan Jerman, di kuartal II-2020, perekonomian Italia kembali merosot ke minus 12,4%.

7. Spanyol

Di antara 27 negara Uni Eropa, Spanyol tercatat sebagai negara dengan kontraksi ekonomi terdalam yaitu minus 18,5%. Banyak ekonom yang memprediksi Spanyol bakal menjadi negara yang paling lama terkontraksi dibandingkan dengan negara Uni Eropa lain.

Negara Lain

8. Amerika Serikat

Amerika Serikat (AS) diketahui sebagai salah satu negara yang paling terhantam pandemi. Lantaran jumlah infeksi di AS sangat tinggi dan akhirnya menyeret perekonomian AS ke dalam resesi.

Resesi AS bahkan telah diprediksi setelah pertumbuhan ekonomi terkontraksi hingga 5% pada kuartal I-2020 lalu.

Nasib Indonesia?

Sementara itu, Indonesia masih menanti pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu, 5 Agustus 2020. Kementerian Keuangan sendiri mematok prediksi kontraksi di level minus 3,8% atau dalam skala antara minus 3,5% hingga minus 5,1%.

Di kuartal pertama tahun ini, Indonesia hanya mampu tumbuh mencapai 2,97% saja, padahal rerata pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5%. Pada kuartal III yang diproyeksi bakal membaik sekitar minus 1% hingga tumbuh positif 1,2%. Untuk kuartal IV, pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di zona positif 1,6% hingga 3,2%. (SKO)

Berita Terkait