NATO: 18.000 Orang Dievakuasi, 20 Orang Tewas Selama Evakuasi dari Afghanistan

23 Agustus 2021 11:30 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Pasukan Amerika di Afghanistan/US Army

JAKARTA - Pakta Pertahanan Atlantic Utara atau NATO melaporkan pada Minggu, 22 Agustus 2021 bahwa setidaknya 20 orang tewas dalam sepekan terakhir terkait proses evakuasi dari ibu kota Afghanistan, Kabul.

Mengutip laporan Independent, pejabat NATO mengatakan sedikitnya 18.000 orang telah dievakuasi sejak Minggu, 15 Agustus dari bandara utama Kota Kabul.

Dilaporkan terjadi desak-desakan dan luka-luka, sebagian dipicu oleh Taliban yang menembak ke udara untuk mengendalikan massa, telah membuat situasi kacau dan terkadang mematikan di Kabul ketika ribuan orang mencari perlindungan sebelum operasi pengangkutan udara berakhir.

Desak-desakan sebenarnya sudah terjadi sejak Minggu lalu ketika Taliban pertama kali menguasai Kabul. Saat itu, Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) mengatakan tujuh orang telah tewas di daerah itu ketika banyak orang berkumpul dalam upaya untuk melarikan diri dari kudeta Taliban.

Negara-negara Barat tergesa-gesa berusaha menyelamatkan ribuan orang setelah kelompok Islam itu menguasai Afghanistan dalam waktu kurang dari seminggu.

Sumber NATO yang tidak disebutkan namanya, yang berbicara kepada Reuters dengan nama anonim, mengatakan: "Krisis di luar bandara Kabul sangat disayangkan. Fokus kami adalah mengevakuasi semua orang asing sesegera mungkin."

Kerumunan telah timbul di bandara setiap hari selama seminggu terakhir, menghambat operasi ketika Amerika Serikat dan negara-negara lain berusaha untuk mengevakuasi ribuan diplomat dan warga sipil mereka serta banyak warga Afghanistan keluar.

"Pasukan kami menjaga jarak yang ketat dari area luar bandara Kabul untuk mencegah bentrokan dengan Taliban," ujar pejabat organisasi militer internasional itu.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Kondisi di lapangan tetap sangat menantang tetapi kami melakukan segala yang kami bisa untuk mengelola situasi seaman dan seaman mungkin."

Menteri pertahanan Ben Wallace mengatakan "tidak ada negara yang bisa mengeluarkan semua orang" dari negara itu sebagaimana ditargetkan Presiden Joe Biden pada 31 Agustus. Jika itu mungkin, maka misi penyelematan semakin terdesak waktu.

"Jika jadwal AS tetap, kita tidak punya waktu untuk membuat mayoritas orang menunggu. Mungkin orang Amerika akan diizinkan untuk tinggal lebih lama, dan mereka akan mendapat dukungan penuh kami jika mereka melakukannya," katanya.

Sementara Biden juga sedang mengupayakan agar bisa mengeluarkan semua warganya sebelum 31 Agustus. Sedikitnya ada 10.000-15.000 warga AS di sana yang mesti dikeluarkan.

Biden berjanji akan menjamin proses evakuasi termasuk mempertahankan pasukan AS di sana sampai memastikan semua warga AS keluar dari negara perbatasan China itu.*

Berita Terkait