Nasib Industri Biodiesel dan Mimpi B40 Jokowi di Tengah Harga CPO yang Meroket

29 Oktober 2021 11:01 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Sukirno

Nasib Industri Biodiesel dan Mimpi B40 Jokowi di Tengah Harga CPO yang Meroket / Esdm.go.id (Esdm.go.id)

JAKARTA – Pada 21 Oktober 2021 lalu, harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sempat melewati angka psikologis 5.000 ringgit Malaysia per ton. Hari itu, harga CPO menyentuh 5.220 ringgit Malaysia per ton, harga CPO tertinggi sepanjang masa.

Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe menjelaskan peningkatan harga CPO ini disebabkan karena tidak adanya pemupukan tanaman kelapa sawit tahun lalu hingga tidak ada peningkatan panen yang tinggi tahun ini.

“Panen yang tidak bisa naik tinggi ini lah yang membuat harga naik, sementara konsumsinya terus naik,” ujar Kiswoyo kepada TrenAsia.com, Kamis, 28 Oktober 2021.

Menurutnya, siklus CPO memang lebih lama dari komoditas tambang. Misalnya, jika tahun ini ada pemupukan, hasilnya baru dapat dituai tahun depannya lagi.

Saat ini, Kiswoyo juga melihat ada usaha pemerintah untuk melakukan penanaman kembali (replanting) kelapa sawit yang umurnya sudah 25 tahun. Sayangnya, dengan adanya kenaikan harga ini, banyak petani sawit yang mengelola 40% lahan sawit di Indonesia enggan melakukan itu.

Replanting ini memakan waktu lama, mereka butuh lima tahun sampai sawit menghasilkan rugi. BEP (break even point) nunggu lagi 7 tahun, kalau begitu petani rugi,” katanya.

Penanaman kembali ini paling mungkin dilakukan ketika panen sudah mulai normal tahun depan dan harga mulai stabil. Meski begitu, nanti ketika penanaman kembali berjalan, Kiswoyo memprediksi harga akan naik lagi karena pasokan CPO akan terganggu akibat hal tersebut.

Trading Economics memperkirakan harga CPO akan turun di akhir kuartal IV-2021 ini ke angka 4.198,31 ringgit Malaysia per ton. Sepanjang tahun depan, harga CPO diprediksi dapat mencapai rata-rata 4.745,75 ringgit Malaysia per ton.

Dengan kondisi harga yang terus tinggi hingga tahun depan ini, bagaimana prospek biodiesel Indonesia yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan campurannya?

Selisih Harga Biodiesel dan Solar Subsidi Semakin Besar

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang meninjau langsung hasil karya riset dan aplikasi teknologi produksi bahan bakar diesel hijau dari minyak sawit dalam kunjungannya ke PT Pertamina (Persero) Refinery Unit II Dumai, Provinsi Riau, Rabu, 15 Juli 2020. / Twitter @Kemenperin_RI
 

Ketua Utama Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Master Parulian Tumanggor mengatakan keadaannya sampai sekarang dana yang dipakai untuk menutupi selisih antara harga biodiesel dan harga solar subsidi.

“Yang kita khawatirkan nanti jika CPO harganya naik terus, selisihnya makin besar. Sampai sekarang dana BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) dianggap bisa menutup selisih itu,” ujar Tumanggor saat dihubungi secara terpisah.

Selama ini selisih antara harga biodiesel dan solar subsidi memang dibayai oleh uang pungutan ekspor kelapa sawit dan produk turunannya yang dikumpulkan ke BPDPKS. Selain itu, pemerintah juga memberikan subsidi tetap sebesar Rp500 per liter.

Pada Oktober 2021, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga indeks pasar (HIP) biodiesel sebesar Rp12.022 per liter ditambah ongkos angkut. Dengan harga solar subsidi yang ditetapkan Rp5.150, ini berarti selisih antara keduanya sudah mencapai Rp6.872 per liter.

“Kalau selisihnya sudah mencapai Rp6.000-Rp7.000 mungkin kadar biodieselnya bisa dikurangi, mungkin jadi B25,” kata Tumanggor.

Meski begitu, dirinya menyerahkan keputusan tersebut sepenuhnya ke Komite Pengarah BPDPKS. Pasalnya, adanya Program Mandatori B30 membuat adanya kemungkinan penurunan kadar biodiesel ini kecil, kecuali ada intervensi dari pemerintah.

Selain itu, Kiswoyo juga mengatakan harga minyak mentah dunia yang jauh lebih rendah dari harga CPO juga akan merugikan biodiesel di tingkat dunia. Jika itu terjadi, industri-industri akan lebih memilih menggunakan solar langsung daripada biodiesel sebagai sumber energi.

Hemat Devisa Negara, Jokowi Mau B30 Jadi B40

Pada 21 Oktober 2021 lalu, harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sempat melewati angka psikologis 5.000 ringgit Malaysia per ton. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

Dalam sambutannya ketika meresmikan pabrik biodiesel milik PT Jhonlin Group, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan industri biodiesel akan menjadi sangat strategis ke depan. Ini karena biodiesel dapat meningkatkan ketahanan energi Indonesia serta menekan besarnya defisit neraca perdagangan akibat impor solar.

“Artinya, kalau kita sudah bisa memproduksi sendiri biodiesel di sini untuk dijadikan campuran menjadi solar, impor kita juga akan turun drastis,” ujarnya Kamis, 21 Oktober 2021.

Meski harga CPO saat ini sedang tinggi, Jokowi mengklaim penggunaan biodiesel hingga hari ini sudah menghemat devisa negara. Menurut catatannya, Indonesia berhasil menghemat devisa Rp38 triliun pada 2020. Pada 2021, Indonesia diperkirakan dapat menghemat lebih banyak lagi, yaitu Rp56 triliun.

Tahun ini, pemerintah menargetkan dapat memproduksi dan menyalurkan 9,2 juta kiloliter (kl) biodiesel. Target ini meningkat 11,6% dari produksi biodiesel pada 2020 lalu yang sebesar 8,6 juta kl menurut data Aprobi.

Kasubdit Pelayanan dan Pengawasan Usaha Bioenergi Kementerian ESDM, Agus Saptono mengatakan realisasi penyerapan biodiesel hingga 20 Oktober 2021 sudah mencapai 7,06 juta kl. Ini berarti penyerapan sudah mencakup 76,76% dari target alokasi yang sebesar 9,2 juta kl.

“Sementara, distribusi biodiesel sudah terealisasi 89,28% dari purchase order (permintaan pembelian) yang sebesar 7,9 juta kl dari Januari-Oktober,” ujar Agus kepada TrenAsia.com, Kamis, 28 Oktober 2021.

Selanjutnya, pemerintah juga berupaya meningkatkan kapasitas produksi biodiesel pada tahun ini sebesar 3,4 juta kl setelah sempat tertunda pada 2020 akibat pandemi COVID-19.

Tumanggor mengatakan peningkatan kapasitas ini juga dilakukan untuk memenuhi target pemerintah yang ingin menaikkan B30 menjadi B40, meningkatkan kadar biodiesel jadi 40% dalam solar.

“Kalau terjadi B40, kita perlu meningkatkan kapasitas produksi dari 9 juta kiloliter jadi 12 juta kiloliter,” ujarnya.

Harga Sawit Tinggi, Awas Beban Pertamina Bengkak!

Total penyaluran volume biodiesel sepanjang semester I-2021 mencapai 4,3 juta kilo Liter (kL). Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Tahun ini, Kementerian ESDM mengungkapkan pihaknya memang sudah memiliki rencana untuk melakukan sosialiasi program B40 tersebut ke masyarakat.

Selain itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan uji coba di lapangan bersama para pemangku kepentingan juga sedang disiapkan.

Meski sedang disiapkan, Dadan memastikan penggunaan B30 tetap akan dilakukan setidaknya hingga semester I-2022. Ini karena pemerintah juga masih perlu memastikan pendanaan sawit berjalan lancar.

Seperti yang sudah dibahas di atas, selama ini pendanaan biodiesel menggunakan pungutan ekspor sawit yang dikumpulkan oleh BPDPKS. Menurut Dadan, saat ini dana tersebut baru cukup untuk membiayai hingga B30 saja.

“Pola sekarang tak cukup untuk mendukung B40. Untuk pastikan B40 jalan nilai pungutan harus diperbesar,” katanya dalam konferensi pers virtual, Jumat, 22 Oktober 2021.

Di tengah semangat Jokowi yang menggebu-gebu naik tingkat ke B40, Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan memperingatkan program ini sebaiknya ditunda dulu. Hal ini mengingat tingginya harga CPO yang memengaruhi harga fatty acid methyl ether (FAME), bahan yang dipakai sebagai campuran biodiesel.

“Program ini lebih baik ditunda, sambil pemerintah mengatur tata niaga CPO untuk FAME. Tanpa aturan tata niaga, ini sudah cukup memberatkan buat pemerintah,” kata Mamit.

Mamit menyarankan pemerintah menggodok aturan domestic market obligation (DMO) untuk FAME seperti aturan saat ini yang sudah ada untuk batu bara. Ini berarti pemerintah diminta menetapkan kuota khusus untuk produksi FAME dari CPO serta harga tetap untuk PT Pertamina (Persero).

Sebagai informasi, adanya kebijakan DMO batu bara membuat tiap perusahaan tambang wajib mengalokasikan 25% dari total produksinya per tahun kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN. Selain itu, harga batu bara DMO juga ditetapkan sebesar US$70 per ton.

Menurut Mamit, adanya aturan DMO serupa untuk CPO yang diolah jadi FAME dapat meringankan beban Pertamina sebagai penyerap utama produk biodiesel. Hal tersebut semakin penting ketika harga CPO melambung seperti saat ini yang diperkirakan terus berlanjut hingga 2022. 

“Perlu duduk bersama antara masing masing stakeholder membicarakan ini. B40 saja sudah susah ketika harganya sangat tinggi, gimana nanti ketika B100?” tuturnya.

Berita Terkait