Nama Asli Gunung Merapi Adalah Candrageni, Siapa Yang Mengubahnya?

YOGYAKARTA-Bagi orang Indonesia, khususnya Jawa, gunung tidak sekadar bagian dari sistem geografi alam. Gunung akan sangat terkait dengan sistem budaya, bahkan kepercayaan masyarakat. Kerap gunung dikaitkan dengan berbagai kisah dan mitos. Yang namanya mitos, jangan tanya soal buktinya.

Demikian juga dengan Merapi, gunung di perbatasan Jawa Tengah-DIY yang pada 5 November 2020 secara resmi statusnya dinaikkan ke Siaga (Level III). Ini bisa dibilang sebagai aktivitas paling serius dari Merapi setelah letusan besar pada 2010 lalu yang menewaskan setidaknya 350 orang.

Merapi juga sangat kuat membangun sistem budaya masyarakat. Gunung ini menjadi ujung dari garis imajiner yang menghubungkan Pantai Parangkusuma di Bantul, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Tugu dan Merapi. Sebenarnyaini adalah garif filosofi perjalanan hidup manusia dari awal hingga akhir.

Gunung ini juga menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah budaya dan kekuasaan di Jawa. Sejumlah kerajaan besar dibangun di sekitar gunung tersebut. Hal ini menjadikan Merapi juga mendapat tempat di sejumlah kitab kuno.

Salah satunya terkait apa nama asli gunung api teraktif di dunia tersebut. Dengan kata lain, Merapi bukan nama asli gunung tersebut. Lalu apa nama aslinya? Dan siapa yang mengubahnya?

Jika melakukan pencarian melalui google untuk mencari nama asli Merapi biasanya diarahkan oleh mesin pencari itu sebagai Merapu.  Tetapi jika mengacu sebuah buku berjudul Sejarah Tanah Jawa yang tulis M Hari Wijaya dan Dr Purwadi disebutkan nama asli Merapi bukan Merapu.

Mengutip Serat  Pustaka  Raja  Purwa karya R. Ng. Ranggawarsita disebutkan nama asli Merapi adalah Candrageni.

Lalu siapa yang mengubahnya? Ranggawarsito menyebut nama Prabu Ajipamasa atau Prabu Kusumawicitra yang melakukan hal itu. Dikisahkan Prabu Kusumawicitra ketika masih beristana di Mamenang dan  menguasai seluruh Pulau Jawa bergelar Prabu Ajipamasa.

Bukan hanya Candrageni yang diubah namanya menjadi Gunung Merapi. Banyak yang lain. Gunung Kanda diganti nama Gunung Kendeng, Mahera diganti nama Gunung Anyar,  Jamba diganti nama Gunung Bancak,  dan Nilandusa menjadi Gunung Wilis.

Selain itu gunung Udarati diganti nama menjadi Gunung Arjuna,  Mahendra jadi Gunung Lawu, Candramuka diganti Gunung Marawu atau Merbabu, Gunung Soda diganti menjadi Gunung Sumbing dan Gunung Sadara menjadi Gunung Sundara.

Perubahan nama itu disebut dilakukan pada tahun  919  S (tahun Jawa)  atau  947 (Masehi). Inilah asal usul nama Merapi versi Ranggawarsito.

Dalam karyanya Ranggawarsita juga mengkaitkan Merapi dengan mitos. Gunung ini disebut sebagai salah satu gunung yang menjadi pusat ritual. Disebutkan pada tahun wulambi 406 S (sekitar 500 tahun sebelum diubah namanya), Batara Laksmana, Batara Satyawaka, Batara Srita atau Batara Panyarikan,  mengejawantah menuju Kayuwan, menghadap kepada Resi Setmata yang merupakan penjelmaan Dewa Wisnu.

Saat itu pemujaan terhadap Dewa Wisnu sudah sampai pada taraf yang berbahaya. Bahkan Wisnu sudah bukan dianggap dewa tetapi dukun oleh masyarakat. Untuk itu ketiga dewa yang datang tadi meminta agar Resi Setmata berpindah padepokan.

Resi Setmata akhirnya sepakat dan memilih padepokan baru di Gunung Candrageni. Gunung ini dipilih karena puncak gunung tersebut dipercaya sebagai tempat diterimanya  pemujaan.  Entah dari mana Ranggawarsito mendapat cerita yang terjadi 500 tahun sebelum pergantian nama itu. Bisa jadi dari Kakawin Bharatayudha karya Empu Panuluh yang memang menjadi salah satu naskah yang kerap jadi dasar dia membuat teori sosialnya.

Prabu Ajipamasa

Pertanyaannya siapa itu Prabu Ajipamasa? Meski raja namanya tidak setenar raja-raja lain seperti Ken Arok, Kertanegara, Samaratungga, Mulawarman dan sebagainya. Dalam catatan sejarah tidak banyak mencatat namanya. Tetapi jika benar mampu mengubah nama pastilah dia bukan orang sembarangan. Hanya orang dengan kategori “Wong Agung” yang bisa melakukan itu.

Dalam buku Letusan Merapi 2010 yang diterbitkan Solopos dan Harian Jogja dan juga mengutip buku Harwijaya dan Purwadi disebutkan, berdasarkan keyakinan masyarakat Ajipamasa berasal dari Kediri dan pendiri Kerajaan Pengging. Nama Pengging masih ada sampai sekarang berada di Boyolali, Jawa Tengah. Pendirian kerajaan sekitar tahun 901 Caka sekitar tahun 979 Masehi. Hanya angka tahunnya meragukan. Jika dia dari Kediri maka kerajaan Kediri justru ada jauh setelah Pengging. Angka tahun tersebut Kediri belum ada. Entah apakah Kediri masih berupa daerah belum kerajaan. Tetapi yang pasti Kediri diperkirakan berdiri baru pada abad 11.

Kerajaan Pengging justru masanya bersamaan dengan Kerajaan Medang atau Mataram Hindu yang berhasil membuat mahakarya Borobudur, Prambanan dan candi-candi besar lainnya. Kerajaan Pengging disebut juga Kerajaan Mamenang. Kedua kerajaan ini hidup berdampingan. Hal ini ditunjukkan dengan ditemukan prasasti yang ditandatangani oleh kedua raja kerajaan tersebut

Ketika kemudian Mataram Hindu hijrah ke Jawa Timur di masa Empu Sendok dan menempati wilayah di kaki Gunung Kelud, Kerajaan Pengging tetap ada. Artinya tidak terkena bencana besar yang disebut Pralaya yang menjadi sebab hijrahnya Medang. Mungkin dari sinilah Pengging menjadi kekuatan tunggal hingga memiliki pengaruh besar termasuk dalam mengubah nama gunung.

Tags:
gunung merapimitos gunung merapistatus gunung merapi
%d blogger menyukai ini: