Kalbe Farma Raup Laba Bersih Rp1,49 Triliun, Naik Tipis 7,9 Persen pada Semester I-2021

30 Juli 2021 20:37 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Laila Ramdhini

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) / Dok. Kalbe Farma

JAKARTA – Emiten farmasi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 7,9% menjadi Rp1,49 triliun pada semester I-2021. Pada periode yang sama tahun lalu, KLBF mencatat laba bersih sebesar Rp1,39 triliun.

Chief Financial Officer KLBF Bernadus Karmin Winata mengatakan KLBF berusaha melakukan inovasi melalui penyediaan layanan dan produk yang lebih terjangkau yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia untuk menjaga pertumbuhan penjualan.

KLBF mencatat penjualan bersih sebesar Rp12,37 triliun pada semester I-2021, tumbuh sebesar 6,6% dibandingkan dengan semester I-2020 yang sebesar Rp11,8 triliun.

Peningkatan penjualan ini didukung oleh divisi distribusi dan logistik yang meningkat 15,6% menjadi Rp4,34 triliun dari sebelumnya Rp3,75 triliun. Penjualan pos ini menyumbang 35,1% terhadap total penjualan bersih KLBF.

Sementara itu, divisi obat resep membukukan peningkatan penjualan sebesar 5.4% menjadi Rp2,7 triliun dari sebelumnya Rp2,56 triliun. Jumlah ini merupakan 21,9% dari total penjualan bersih KLBF.

Selanjutnya, produk kesehatan meningkat 3,1% menjadi Rp2 triliun (16,2% penjualan bersih) dan divisi nutrisi turun  0,5% menjadi Rp3,23 triliun (26,9% penjualan bersih). 

Laba usaha KLBF meningkat 7,3% menjadi Rp 1,84 triliun pada semester I-2021. Rasio laba usaha terhadap penjualan naik menjadi 14,9% dari 14,8% untuk periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Laba sebelum pajak penghasilan pada semester I-2021 tercatat sebesar Rp1,93 triliun. Jumlah ini tumbuh 6,6% dibandingkan dengan semester I-2020 dengan margin laba sebelum pajak penghasilan mencapai 15,6%,

Revisi target pertumbuhan penjualan

Melihat kondisi ekonomi yang mulai membaik, Bernadus mengatakan KLBF merevisi target pertumbuhan penjualan bersih 2021 menjadi sebesar 7%-10% dengan proyeksi pertumbuhan laba bersih sekitar 7%-10%.

“Perseroan juga mempertahankan anggaran belanja modal sebesar Rp 1,0 triliun yang akan digunakan untuk perluasan kapasitas produksi dan distribusi,” ujarnya.

Sementara itu, rasio pembagian dividen dipertahankan pada rasio 45%-55%, dengan memperhatikan ketersediaan dana dan kebutuhan pendanaan internal.

Berita Terkait