Naik 72,5 Persen, BFI Finance Cetak Laba Rp396 Miliar di Kuartal I-2022

27 April 2022 14:30 WIB

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Rizky C. Septania

Kantor BFI Finance (TrenAsia)

JAKARTA -PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) mencatatkan laba bersih sebesar Rp396 miliar per 31 Maret 2022, naik 72,5% dibanding periode yang sama tahun lalu. 

Pertumbuhan laba ini tidak terlepas dari bertumbuhnya pendapatan total sebesar 18,4% yoy menjadi Rp1,2 triliun dan diimbangi dengan penurunan total biaya sebesar 3,6% yang didukung oleh penurunan biaya dana (cost of fund) dan biaya kredit (cost of credit) yang turun dibanding tahun sebelumnya, dengan biaya operasional meningkat secara proporsional.

Direktur Keuangan dan Corporate Secretary BFI Finance Sudjono menyatakan sepanjang kuartal I-2022, BFI Finance mencatat nilai pembiayaan baru (booking) sebesar Rp4,8 triliun, atau yang terbesar dalam sejarah perseroan. Nilai ini meningkat 61,8% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, dan 10,9% dibandingkan kuartal sebelumnya. 

Peningkatan nilai booking ini turut mengatrol jumlah total piutang yang dikelola yang naik 14,3% dibandingkan kuartal I-2021, menjadi Rp15,6 triliun. Rasio Non-Performing Financing (NPF) bruto tetap stabil membaik di angka 1,06% dan neto sebesar 0,26%. Sementara nilai aset dilaporkan sebesar Rp16,4 triliun, atau lebih tinggi 15,4% yoy. 

“Mobilitas masyarakat yang semakin tinggi serta peningkatan kebutuhan dan konsumsi jelang Ramadan juga turut mendukung kinerja Perseroan sepanjang kuartal satu kemarin,” kata dia dalam keterangan tertulis dikutip Rabu, 27 April 2022.

Ditambahkan, seiring kondisi ekonomi dan kinerja yang membaik, perusahaan mulai menurunkan Cadangan Kerugian Piutang dari 7,6% di kuartal I-2021 menjadi 5,4% di kuartal I-2022. Perusahaan tetap fokus dalam menerapkan manajemen risiko yang prudent dengan tetap menjaga tingkat cadangan yang mencapai 5,1x besar NPF.

Per 31 Maret 2022, sisa nilai piutang dari kontrak yang melakukan relaksasi terkait pandemi COVID-19 tersisa 6,9% dari keseluruhan nilai piutang pembiayaan yang dikelola atau turun secara signifikan dari nilai persentase tertinggi 35,5% di September 2020.

Sebagian besar dari piutang relaksasi tersebut sudah dalam tahap pembayaran normal, dengan 1,3% sisanya masih dalam program relaksasi. Diharapkan piutang relaksasi ini dapat dituntaskan sepenuhnya di 2022 mengingat sejak akhir 2021 kurvanya sudah terus menurun. 

Untuk piutang pembiayaan yang dikelola berdasarkan jenis aset, komposisi mobil (bekas dan baru) sebesar 70,7% disusul oleh alat berat dan mesin sebesar 12,5%. Sisanya adalah motor bekas 10,4%, dan lainnya 6,4% seperti property-backed financing (PBF) atau pembiayaan berjaminan sertifikat rumah dan ruko, pembiayaan syariah, dan pembiayaan chanelling dengan anak usaha Pinjam Modal (PT Finansial Integrasi Teknologi). 

Berita Terkait